Aku teringat pertama kali ke Malang waktu Bapakku di ajak berlibur oleh Pak Sarozi –Kiai deket rumah- untuk liburan –entah dalam rangka apa liburannya aku tidak ingat-. Waktu itu aku masih sangat kecil, mungkin belum menginjak TK. Sepanjang perjalanan dari Probolinggo ke Malang dan sebaliknya aku selalu bertanya sama bapak “mana Malang, mana Malang?”, meskipun sudah sampai Malang aku masih saja bertanya-tanya seperti itu sama Bapak karena aku tidak mengetahui Malang itu apa, yang aku tahu Malang adalah sebuah ungkapan untuk menyatakan sebuah perasaan, yaitu sinonimnya kasihan. Liburan waktu itu yang aku ingat yaitu mengunjungi tempat wisata Sengkaling dan bermain wahana air dengan Bapak dan Pak Kiai, bermain sepeda air dan wahana lainnya. Itulah momen singkat yang aku ingat tentang kunjungaku ke Malang pertama kali, berlibur dengan Bapak dan Pak Kiai. Pengalaman kedua tentang Malang adalah ketika liburan kelas 6 Sekolah Dasar, pada kesempatan ini pengetahuanku tentang Malang sudah semakin berkembang dimana Malang dikenal dengan buah Apelnya dan kotanya yang sejuk dan menyegarkan. Namun ada pertanyaan dariku yang masih anak-anak yaitu kenapa apel Malang itu warnanya hijau dan kecil-kecil, berbeda dengan apel-apel –apel impor dari China- yang aku temui di pasar Probolinggo yang besar-besar dan warnanya merah. Sehingga saat hendak membelikan oleh-oleh apel untuk orang-orang di rumah aku membelikan apel yang warnanya ada merah-merahnya, karena pikirku waktu itu warna merah pada apel adalah tanda bahwa buah apel tersebut manis. Eh, ternyata sesampainya di rumah dan waktu memakan apel tersebut ternyata rasanya tetap asam, tapi tetap saja dimakan sama orang tuaku karena kata Bapak dan Ibuku memang begitulah rasa apel Malang yaitu manis asam, meskipun aku tidak bisa merasakan kenikmatan memakan apel yang asam itu. hehehe.
Malang juga merupakan tempat favorit untuk mengenyam pendidikan kuliah bagi saudara-saudaraku yang lebih tua, juga ada salah satu sanak saudara dari keluarga Ibuku yang berdomisili di Malang tepatnya di Singosari. Dan pernah salah satu saudari tuaku berkata kalau Malang itu kota kedua baginya, karena begitu banyaknya sanak keluarga yang mengenyam pendidikan perguruan tinggi disana, dan salah satunya saat ini adalah aku.
Ya, pada pertengahan 2008 aku resmi menjadi mahasiswa di UB, salah satu perguruan tinggi negeri terkemuka di Kota Malang dan juga di Indonesia. Awal masuk UB sendiri aku serba tidak tahu apa-apa, karena mengenyam pendidikan kuliah tidak ada dalam schedule kehidupanku setelah masa SMA berkahir. Karena aku berfikir sistem pendidikan seperti ini tidak akan membuatku menjadi manusia yang lebih baik lagi karena waktu kehidupanku habis digunakan dalam kelas, padahal diluar sana dunia begitu luas untuk diarungi dan banyak hal yang ingin aku lihat di dunia ini. Namun apa daya, Ibuku menginginkan aku mengenyam pendidikan yang lebih tinggi lagi, dengan alasan agar menjadi orang sukses dan akhirnya aku hanya bisa mengiyakan keinginan beliau. Menjelang akhir SMA, banyak teman-teman yang sudah aktif mengincar Universitas mana yang akan menjadi labuhan pendidikan berikutnya bagi mereka, mereka mulai searching di Internet dan mencari brosur-brosur segala macam perguruan tinggi yang kebanyakan didapat di ruang BK. Sedangkan aku hanya santai karena tidak tahu apa-apa, aku bahkan tidak mengetahui apa yang harus aku lakukan dalam memilih Universitas, karena sama sekali tidak ada bayangan mau melanjutkan sekolah dimana dan sangat nihil mengenai informasi Universitas apa saja yang ada di Indonesia, aku tidak tahu fakultas itu apa, jurusan itu apa, SNMPTN itu apaan, aku tidak tahu sama sekali.
Hingga pada suatu hari salah seorang guru BK datang ke ruangan kelasku, dia menerangkan dan menawarkan program PSB atau jalur prestasi masuk UB yaitu hanya dengan menyerahkan nilai raport saja dan tanpa sengaja –juga tanpa pikir panjang karena aku buta mengenai begituan- aku menawarkan diri untuk mengikutinya. Bagi yang berminat disuruh mengacungkan tangan, kira-kira ada 10 anak yang tertarik dengan PSB UB ini. Setelah itu guru BK bertanya satu-satu pada mereka dan juga aku, yaitu fakultas apa yang ingin dimasuki, ada yang ekonomi, ada yang fisip, dsb. Hingga akhirnya aku yang ditanyai hendak memilih fakultas apa, sontak aku kebingungan karena blas tidak paham hendak memilih apa, “sebentar bu masih mikir” aku berkata begitu untuk mengulur-ngulur waktu dan pertanyaan guru BK dialihkan ke anak-anak yang lain, hingga selesai semuanya dan anak-anak sudah memantapkan pilihannya, aku ditanyai lagi “jadi pilih apa kamu? Ayo cepetan ini datanya mau dikirim” kata guru BK dengan nada terburu-buru. Pada saat itu aku teringat omongan teman Ibuku waktu bertamu dirumah yang bercerita kalau anaknya kuliah di jurusan administrasi, sehingga langsung saja aku bilang ke guru BK “Administrasi Bu” dan guru BK bertanya lagi “Administrasi apa?” mati aku, karena tidak ngerti sama sekali. Tapi untungnya guru BK mengasih pilihan “Administrasi Negara apa Niaga?”, karena aku tidak menyukai yang namanya hitung-hitungan maka terpilihlah Administrasi Negara “Administrasi Negara Bu” jawab aku, “Bagi yang mengikuti program PSB diharap segera melampirkan persyaratan yang diperlukan” tutup pengumuman penawaran program PSB UB dari guru BK dikelasku.
Hingga waktu pengumuman tiba, Alhamdulillah aku diterima menjadi salah satu mahasiswa melalui program PSB UB. Dan Alhamdulillah juga PSB UB –selain juga SPKS UB, tapi tidak aku ambil karena sudah keterima PSB UB- adalah satu-satunya program penerimaan mahasiswa baru yang aku ikuti dan itu merupakan momen keberuntunganku yang nihil informasi tentang dunia perguruan tinggi. Hahaha. Adaptasi menjadi Mahasiswa baru (Maba) aku jalani dengan cukup baik, aku tidak perlu susah-susah untuk berbaur dengan suasana baru karena sebelumnya aku sudah merasakan sekolah di luar kota ketika menginjak MTs dan juga aku cukup terbantu dengan banyaknya teman-teman dari SMAku yang juga kuliah di kota Malang ini. Ada sedikit cerita ketika aku menjadi Maba, yaitu pada saat pendataan mahasiswa baru –kalau tidak salah hari rabu sore- untuk keperluan PK2Maba (OSPEK/MOS). Ceritanya bermula ketika pendataan Maba telah usai dilakukan oleh kakak-kakak admin, para Maba digiring dan disuruh berbaris dengan rapi –para Maba sudah dibagi menjadi beberapa pleton- oleh kakak-kakak Mentor dan dilanjutkan dengan penertiban oleh kakak-kakak Disma (Disiplin Mahasiswa), tentunya dengan suara tegas, lancang dan juga keras. Para Disma selalu berteriak bahkan tak jarang juga berteriak di depan wajah para Maba. Aku berpikir kalau ini hanya acting, meskipun sempat membuatku sedikit takut juga, saat acara teriak-teriak oleh Disma selesai tibalah kakak-kakak event crew (Divisi Acara) yang bernyanyi jargon-jargon PK2Maba dengan ceria dan muka bahagia, juga mengajak para Maba untuk rileks setelah acara teriak-teriak oleh Disma selesai, setelah bernyanyi mereka lalu memberikan tugas yang akan digunakan untuk besok paginya dan mereka hanya membacanya satu kali. Karena aku menanggapinya santai, jadi aku tidak mencatatnya, aku hanya mengingat-ingatnya dan walhasil sesampainya di kos aku sama sekali tidak ingat tugas yang diberikan event crew tadi.
Kejadian itu diperparah dengan tidak tahunya aku tempat kumpul pletonku –padahal tempat kumpulnya di Watu Gong, sedangkan kos-kosanku ada di Kertorahayu-, karena waktu Maba aku sama sekali buta nama-nama tempat yang ada di Malang, balik dari kampus ke kos saja aku pernah nyasar. Hahaha. Akibatnya, pada malam hari sebelum PK2Maba aku hanya menjadi pengangguran di Kos –dengan dihantui perasaan khawatir karena belum menyiapkan apa-apa-, aku bisa tidur nyenyak padahal teman-teman lainnya pada begadang menyiapkan semuanya buat esok hari –termasuk teman satu kamar kosku yang domisilinya sama denganku-. Hasilnya, pada esok paginya disaat teman-teman sudah mengenakan atribut yang lengkap, mungkin hanya aku saja yang masih belum mengenakan atribut sesuai dengan perintah event crew pada hari kemarinnya. Begitulah sedikit cerita konyol ketika aku menjadi Maba.
Pada saat semester awal, para Maba dijadikan satu kelas yang masing-masing sudah ditentukan dalam satu semester. Mungkin kebijakan tersebut dilakukan untuk membiasakan Maba dengan suasana pendidikan yang baru sebelum nantinya akan dibebaskan memilih kelas sesuai jam dan harinya. Aku masuk dalam kelas A, dimana banyak teman-teman hebat yang aku temui dari berbagai daerah, berbagai suku bangsa dan juga ada yang berbeda agama. Keragaman ini membuatku sedikit lebih mengenal kebudayaan ataupun kebiasaan pola hidup beberapa daerah di Indonesia, ada yang wataknya keras dan tegas, ada yang kalem dan lembut, nada bicara yang khas sesuai daerahnya masing-masing, dan bahkan dalam suku jawa terdapat perbedaan dalam intonasi suara bahasa yang digunakan, misalnya bahasa jawa timur bagian barat, tengah dan timur berbeda intonasi suara dan pengucapan istilah-istilah dalam bahasa jawa seperti koe sama dengan koen, kui sama dengan iku, piye sama dengan yo’opo, dsb dengan pengucapan yang khas tentunya.
Bersambung..