Di
Indonesia ini saya memiliki banyak tokoh panutan, terutama dari tokoh Islam
seperti Alm. Nurcholis Madjid (Cak
Nur), Alm. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), KH. Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus),
Ainun Nadjib (Cak Nun), Buya Syafi’i Ma’arif, Prof. Dr. Nadirsyah Hosen dan
banyak lain sebagainya. Tokoh selain Islam juga ada beberapa yang saya kagumi
tapi lupa nama mereka, hanya ingat wajahnya. Hehehe
Satu hal yang membuat saya kagum dengan
mereka, yaitu cara berfikir mereka yang begitu unik, begitu luas ilmunya,
sederhana dan selalu memiliki cara untuk menjawab setiap permasalahan dengan
mengedepankan sisi kemanusiaan, atau yang sering didengungkan oleh Gus Mus
adalah “Memanusiakan manusia”. Tapi sayang sekali kekayaan intelektual baik
ilmu agama Islam atau Ilmu lainnya mereka seringkali dicap sebagai golongan
liberal dan tidak sedikit yang mengecap kafir.
Karena merekalah saya berusaha untuk
menghormati segala bentuk perbedaan dan keragamaan dengan mengedepankan sisi
kemanusiaan. Terlebih negara ini adalah negara gado-gado, banyak warna di
dalamnya, banyak agama, ras, suku, bahasa dan budaya yang sangat kaya. Untuk
itulah dalam memahami perbedaan saya pribadi selalu menanamkan pentingnya sikap
memahami satu sama lain, meskipun kadang hal tersebut sangat susah dilakukan.
Biasanya disetiap tulisan itu ada latar
belakangnya, latar belakang tulisan ini sebenarnya karena efek dari salah satu
postingan Facebook Prof. Dr. Nadirsyah Hosen yang begitu luar biasa, seorang
guru besar University of Wollongong Australia, yang mengajar Islamic Law dan
Australian Constitutional Law dan juga Rais Syuriah NU Cabang Australia. Untuk
lebih spesifik bisa dicek sendiri di Akun FB Beliau.
Beliau menulis tentang tafsir ayat Al Quran yaitu QS Al Ma’idah : 51 dan QS Al
Nisa : 144 yang sama-sama menjalaskan larangan memilih “awliya” dari golongan
orang-orang non Islam dan kafir. Beliau mencoba untuk membedah arti kata “awliya”
yang oleh Departemen Agama Indonesia diartikan sebagai pemimpin melalui
beberapa ahli tafsir seperti al Thabary, Ibn Katsir, As Saddi, dan Ibn
Taimiyah. Inti dari ayat tersebut sesuai dengan apa yang saya cerna dari
postingan FB beliau adalah, bahwa kata “awliya” berdasarkan beberapa tafsir dan
asbabun nuzulnya (sebab turunnya ayat tersebut) tersebut bukan diartikan
sebagai pemimpin, namun diartikan sebagai temenan (berteman) dalam arti bersekutu
dan beraliansi dengan meninggalkan orang Islam.
Contoh gampangnya itu misal si A seorang
Muslim mempunyai teman si B yang Non Muslim, si A ini berteman sangat akrab
dengan si B, saking akrabnya si A menjadikan si B ini sebagai sekutunya karena
mungkin akan berguna suatu saat nanti atau berlindung kepada si B, dan oleh
karena alasan tersebut si A meninggalkan Islam dan memeluk agamanya si B. Dan
si B disini itu disebut sebagai “awliya’.
Luar biasa sekali Gus Nadir ini dalam
menjabarkan maksud ayat tersebut, menggunakan sudut pandang dari berbagai ahli
tafsir. Namun apa daya, di banyaknya komentar positif tentang penjelasan ayat
tersebut ada juga beberapa oknum yang berkomentar negatif dan dengan mudahnya
merendahkan Gus Nadir yang notabenya seorang Profesor dalam hukum Islam dan
perbandingan Mahzab dengan kata-kata yang tidak pantas.
Beliau menuliskan penjabaran tersebut agar
orang-orang Islam khususnya tidak mudah terjebak dalam isu Politik Praktis
dengan membawa-bawa ayat tersebut untuk kepentingan duniawi semata, kepentingan
jegal menjegal dalam politik dengan cara mengajak untuk mengkaji setiap
peristiwa dengan hal-hal yang bisa dipertangungjawabkan, tanpa mengedepankan
emosi. Apalagi, akhir-akhir ini ramai dibicarakan tentang pencalonan Pak Ahok
dalam Pilkada Gubernur tahun depan.
***
Bisa dibilang banyak pihak yang masih
sensitif terkait isu keagamaan, sara dan ras di Indonesia ini. Apalagi kalau
ditambahi bumbu-bumbu politik, suasanya bisa memanas dan kadang kebablasan
hingga menimbulkan gesekan-gesekan yang menurut saya tidak perlu. Saya jadi
teringat omongan Gus Mus kalau masih banyak orang di Indonesia ini yang
kagetan, ada isu sedikit yang berkaitan dengan agama kaget terus emosi, ada
pencalonan Gubernur yang non Muslim kager terus emosi, dulu ada goyang Inul
yang bikin heboh banyak yang kaget terus emosi, dan lain sebagainya.
Seolah-olah Islamya orang yang kagetan terus emosi ini adalah Islam yang paling
benar. Kalau hal tersebut dibudidayakan bisa-bisa negara kita yang mayoritas
Islam ini (yang juga merupakan ketakutan saya) akan menduplikat ketidakstabilan
yang terjadi di Timur Tengah karena isu agama, lebih mengutamkaan otot daripada
akal, lebih mengutamakan emosi daripada hati nurani.
Dalam hal sederhana seperti pertarungan
Pilgub DKI Jakarta, bagi yang tidak setuju untuk Ahok maju sebagai Gubernur, ya
sudah jangan memilih dia, apalagi orang-orang yang suka berkomentar negatif
yang domisilinya bukan warga Jakarta lebih baik kasih analisa yang lebih santun
tidak perlu bawa-bawa agama dan ras. Bagi yang mendukung dia juga berkampanyelah
dengan santun tanpa membawa-bawa agama dan ras juga. Saya jadi teringat kata-kata
Gus dur kalau orang yang melakukan kebaikan itu tidak akan ditanya apa
agamanya, tapi akan diliat bagaimana kinerjanya, bagaimana hasil kerja kerasnya
untuk kemaslahatan bersama tanpa memandang dari agama atau ras mana saja. Kalaupun
kriteria orang baik tersebut datang dari kalangan Non Muslim, ya kita doakan
saja semoga dapat hidayah, kalau datang dari golongan Muslim, doakan juga biar
semakin banyak orang-orang Muslim berkriteria seperti itu.
Sesederhana itu, janganlah jadi bangsa
yang kagetan. Jangan pula kaget terus emosi sama tulisan saya ini, nanti dikira
saya pendukung Ahok, pun saya juga bukan Pembenci Ahok. Saya hanya concern,
mbok yo kalau ada hal-hal seperti ini lagi jangan gampang emosi dan bawa-bawa
agama. Lebih baik agama itu dibawa tanpa emosi yang negatif, kalau emosi yang
positif saya baru ikutan.
Yo wis gitu aja.
Wassalam