Senin, 21 Maret 2016

Bangsa Kagetan



Di Indonesia ini saya memiliki banyak tokoh panutan, terutama dari tokoh Islam seperti Alm. Nurcholis Madjid (Cak Nur), Alm. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), KH. Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus), Ainun Nadjib (Cak Nun), Buya Syafi’i Ma’arif, Prof. Dr. Nadirsyah Hosen dan banyak lain sebagainya. Tokoh selain Islam juga ada beberapa yang saya kagumi tapi lupa nama mereka, hanya ingat wajahnya. Hehehe
Satu hal yang membuat saya kagum dengan mereka, yaitu cara berfikir mereka yang begitu unik, begitu luas ilmunya, sederhana dan selalu memiliki cara untuk menjawab setiap permasalahan dengan mengedepankan sisi kemanusiaan, atau yang sering didengungkan oleh Gus Mus adalah “Memanusiakan manusia”. Tapi sayang sekali kekayaan intelektual baik ilmu agama Islam atau Ilmu lainnya mereka seringkali dicap sebagai golongan liberal dan tidak sedikit yang mengecap kafir.

Karena merekalah saya berusaha untuk menghormati segala bentuk perbedaan dan keragamaan dengan mengedepankan sisi kemanusiaan. Terlebih negara ini adalah negara gado-gado, banyak warna di dalamnya, banyak agama, ras, suku, bahasa dan budaya yang sangat kaya. Untuk itulah dalam memahami perbedaan saya pribadi selalu menanamkan pentingnya sikap memahami satu sama lain, meskipun kadang hal tersebut sangat susah dilakukan.

Biasanya disetiap tulisan itu ada latar belakangnya, latar belakang tulisan ini sebenarnya karena efek dari salah satu postingan Facebook Prof. Dr. Nadirsyah Hosen yang begitu luar biasa, seorang guru besar University of Wollongong Australia, yang mengajar Islamic Law dan Australian Constitutional Law dan juga Rais Syuriah NU Cabang Australia. Untuk lebih spesifik bisa dicek sendiri di Akun FB Beliau.

Beliau menulis tentang tafsir ayat  Al Quran yaitu QS Al Ma’idah : 51 dan QS Al Nisa : 144 yang sama-sama menjalaskan larangan memilih “awliya” dari golongan orang-orang non Islam dan kafir. Beliau mencoba untuk membedah arti kata “awliya” yang oleh Departemen Agama Indonesia diartikan sebagai pemimpin melalui beberapa ahli tafsir seperti al Thabary, Ibn Katsir, As Saddi, dan Ibn Taimiyah. Inti dari ayat tersebut sesuai dengan apa yang saya cerna dari postingan FB beliau adalah, bahwa kata “awliya” berdasarkan beberapa tafsir dan asbabun nuzulnya (sebab turunnya ayat tersebut) tersebut bukan diartikan sebagai pemimpin, namun diartikan sebagai temenan (berteman) dalam arti bersekutu dan beraliansi dengan meninggalkan orang Islam. 

Contoh gampangnya itu misal si A seorang Muslim mempunyai teman si B yang Non Muslim, si A ini berteman sangat akrab dengan si B, saking akrabnya si A menjadikan si B ini sebagai sekutunya karena mungkin akan berguna suatu saat nanti atau berlindung kepada si B, dan oleh karena alasan tersebut si A meninggalkan Islam dan memeluk agamanya si B. Dan si B disini itu disebut sebagai “awliya’.

Luar biasa sekali Gus Nadir ini dalam menjabarkan maksud ayat tersebut, menggunakan sudut pandang dari berbagai ahli tafsir. Namun apa daya, di banyaknya komentar positif tentang penjelasan ayat tersebut ada juga beberapa oknum yang berkomentar negatif dan dengan mudahnya merendahkan Gus Nadir yang notabenya seorang Profesor dalam hukum Islam dan perbandingan Mahzab dengan kata-kata yang tidak pantas.

Beliau menuliskan penjabaran tersebut agar orang-orang Islam khususnya tidak mudah terjebak dalam isu Politik Praktis dengan membawa-bawa ayat tersebut untuk kepentingan duniawi semata, kepentingan jegal menjegal dalam politik dengan cara mengajak untuk mengkaji setiap peristiwa dengan hal-hal yang bisa dipertangungjawabkan, tanpa mengedepankan emosi. Apalagi, akhir-akhir ini ramai dibicarakan tentang pencalonan Pak Ahok dalam Pilkada Gubernur tahun depan.

***
Bisa dibilang banyak pihak yang masih sensitif terkait isu keagamaan, sara dan ras di Indonesia ini. Apalagi kalau ditambahi bumbu-bumbu politik, suasanya bisa memanas dan kadang kebablasan hingga menimbulkan gesekan-gesekan yang menurut saya tidak perlu. Saya jadi teringat omongan Gus Mus kalau masih banyak orang di Indonesia ini yang kagetan, ada isu sedikit yang berkaitan dengan agama kaget terus emosi, ada pencalonan Gubernur yang non Muslim kager terus emosi, dulu ada goyang Inul yang bikin heboh banyak yang kaget terus emosi, dan lain sebagainya. Seolah-olah Islamya orang yang kagetan terus emosi ini adalah Islam yang paling benar. Kalau hal tersebut dibudidayakan bisa-bisa negara kita yang mayoritas Islam ini (yang juga merupakan ketakutan saya) akan menduplikat ketidakstabilan yang terjadi di Timur Tengah karena isu agama, lebih mengutamkaan otot daripada akal, lebih mengutamakan emosi daripada hati nurani.

Dalam hal sederhana seperti pertarungan Pilgub DKI Jakarta, bagi yang tidak setuju untuk Ahok maju sebagai Gubernur, ya sudah jangan memilih dia, apalagi orang-orang yang suka berkomentar negatif yang domisilinya bukan warga Jakarta lebih baik kasih analisa yang lebih santun tidak perlu bawa-bawa agama dan ras. Bagi yang mendukung dia juga berkampanyelah dengan santun tanpa membawa-bawa agama dan ras juga. Saya jadi teringat kata-kata Gus dur kalau orang yang melakukan kebaikan itu tidak akan ditanya apa agamanya, tapi akan diliat bagaimana kinerjanya, bagaimana hasil kerja kerasnya untuk kemaslahatan bersama tanpa memandang dari agama atau ras mana saja. Kalaupun kriteria orang baik tersebut datang dari kalangan Non Muslim, ya kita doakan saja semoga dapat hidayah, kalau datang dari golongan Muslim, doakan juga biar semakin banyak orang-orang Muslim berkriteria seperti itu.

Sesederhana itu, janganlah jadi bangsa yang kagetan. Jangan pula kaget terus emosi sama tulisan saya ini, nanti dikira saya pendukung Ahok, pun saya juga bukan Pembenci Ahok. Saya hanya concern, mbok yo kalau ada hal-hal seperti ini lagi jangan gampang emosi dan bawa-bawa agama. Lebih baik agama itu dibawa tanpa emosi yang negatif, kalau emosi yang positif saya baru ikutan.

Yo wis gitu aja.

Wassalam