Rabu, 06 April 2016

Agama, Seberapa Pentingkah Kehadirannya?



Saat ada waktu senggang saya membiasakan diri untuk membaca, kebanyakan membaca melalui media online, entah itu dari protal berita online atau tulisan-tulisan yang dimuat dari web-web pribadi para tokoh-tokoh Indonesia. Namun kebanyakan saya membaca apa saja yang bisa dibaca sepanjang mata memandang, hitung-hitung untuk membunuh waktu yang tidak produktif dan juga karena daerah yang saya tempati kali ini tidak ada toko buku seperti Gramedia, jadi kebanyakan membaca di media online. Dari membaca inilah timbul niat untuk membagikan informasi yang saya dapat melalui tulisan di blog pribadi saya –meskipun sempat vakum lama-, sekalian belajar menulis menerjemahkan apa yang saya peroleh dari membaca.
Pada kesempatan kali ini, fokus saya tertuju pada isu pengaruh agama dalam kehidupan masyarakat, dengan sebuah pertanyaan; apakah bangsa yang mayoritas beragama memiliki dampak dalam kehidupan bermasyarakat? Latar belakang kenapa fokus ini muncul karena saya cukup kaget membaca sebuah berita yang menyatakan bahwa Negara yang paling Islami di Dunia ini adalah Negara Irlandia –Data menurut penelitian Guru Besar politik dan bisnis Internasional Universitas George Washington, AS, Hossein Askari di Tahun 2014-. Padahal bukan rahasia umum lagi bahwa Indonesia adalah Negara dengan mayoritas umat Islam terbesar di dunia. Hal tersebut membuat saya semakin penasaran dan karena semakin seru, saya coba meng-ubek-ubek dunia maya untuk mencari informasi yang menyajikan data sesuai dengan berita tersebut.
Jadi, Prof. Askari dan Prof.Scheherazde S Rehman melakukan penelitian di 208 negara untuk mencari Negara manakah yang dapat dijadikan tolak ukur sebagai Negara yang merefleksikan ajaran Islam atau yang menerapkan nilai-nilai Islam dalam segala bidang -dalam bidang ekonomi, pemerintahan, hak politik rakyat dan juga hubungan internasional-. Dari penelitian beliau inilah dijelaskan bahwa Negara Irlandia adalah negara yang paling merefleksikan ajaran Islam. Hal ini salah satunya karena, Negara tersebut benar-benar mengedepankan kesejahteraan tanpa adanya isu-isu rasialisme agama dan sengat sesuai dengan ajaran-ajaran Islam misalnya dalam hal keadilan dan kejujuran. Lantas dimanakah dan bagaimanakah dengan Negara yang mayoritas penduduknya Muslim seperti Indonesia? Dalam posisi 50 besar dari penelitian tersebut, hanya ada Malaysia -menduduki peringkat ke-33- dan Kuwait -di peringkat ke -48-. Indonesia sendiri entah berada diperingkat berapa.
Prof. Askari menjelaskan kenapa Negara-negara yang mayoritas Islam malah berada di posisi paling buncit, itu karena Negara-negara tersebut menggunakan Islam hanya sebagai alat kekuasaan. Beliau berkata bahwa "Jika sebuah negara memiliki ciri-ciri tak ada pemilihan, korup, opresif, memiliki pemimpin yang tak adil, tak ada kebebasan, kesenjangan sosial yang besar, tak mengedepankan dialog dan rekonsiliasi, negara itu tidak menunjukkan ciri-ciri Islami”.
Dari pernyataan Prof. Askari kita bisa memahami kenapa Negara-negara Muslim khususnya Indonesia berada di urutan buncit. Karena bisa kita lihat, Islam sebagai pedoman kehidupan hanya dijadikan alat kekuasaan saja, hanya tampilan luarnya saja yang terlihat Islami namun didalamnya banyak Patologi yang sudah mengakar seperti, korupsi, pimpinan yang tidak adil, tidak transparannya kegiatan politik, dan masih banyaknya kesenjangan sosial.
Membicarakan penerapan Islam dalam kehidupan sehari-hari, malam tadi di grup WhatsApp alumni MTs saya -yang didalamnya banyak orang-orang dari latar belakang Pondok pesantren-, ada salah satu orang yang mengirimkan gambar berupa sebuah hukuman bagi para perempuan yang mengenakan celana jeans ketat di Aceh. Hukuman tersebut berupa me-Milox celana tersebut langsung di TKP. Banyak teman-teman di Grup yang meng-Amini hal tersebut, mungkin mereka berpikir karena hal tersebut tidak sesuai dengan syariat. Namun saya mencoba menjelaskan dari sudut pandang yang lain bahwa kita sebagai orang Islam -apalagi yang saya hadapi ini teman-teman Pondok Pesantren- janganlah menggunakan kaca mata kuda dalam menerapkan syariat agama. Belum tentu juga perempuan-perempuan yang dihukum tersebut memang belum memahami batasan-batasan syar’i dalam berbusana, mungkin perempuan-perempuan tersebut juga belum memiliki kesempatan mengenyam pendidikan Islam yang lebih tinggi dan alangkah baiknya hukuman tersebut diganti dengan dakwah yang lebih bermartabat.

****
Jika diatas saya membahas penerapan Islam di berbagai Negara dan juga contoh kecil di Indonesia. Lantas bagaimanakah pengaruh agama secara umum –tanpa melihat satu-persatu agamanya- terhadap kehidupan masyarakat. Mari kita simak data dari Pew Research Center dibawah ini ;

Dari data tersebut, peringkat teratas Negara-negara yang masyarakatnya menjadikan agama sebagai sesuatu yang wajib adalah Ethiopia, Senegal dan Indonesia. Negara-negara tersebut secara kehidupan secara menyeluruh –baik dalam segi ekonomi, politik, dsb- tidak lebih maju daripada negara-negara yang berada di peringkat bawah. Padahal untuk Indonesia sendiri, negara kita ini banyak sekali ditemui para ahli di bidang agama, dalam setiap aspek kehidupan dari urusan kasur sampai dapur, dari soal makan bubur hinggal liang kubur, Agama selalu hadir di kehidupan masyarakat.
Kenapa negara-negara yang sangat peduli dengan Agama kalah makmur dengan negara-negara yang tidak memandang penting Agama? Apakah orang-orang yang ber-Agama hanya sukses dan makmur dikehidupan Akherat? Ataukah seperti penjelasan diatas bahwa negara-negara yang maju tersebut sebenarnya sudah menjalankan prinsip-prinsip Agama –seperti Irlandia yang dinobatkan sebagai Negara paling Islami- dan justru Negara-negara yang berlandaskan Agama hanya kulit luarnya saja namun di dalamnya penuh kepentingan duniawi?

Lieur euy...........

Wassalam,

06-04-2016, Cianjur yang langitnya masih galau

Senin, 04 April 2016

Memahami Arti Pengorbanan Dan Kesabaran



Sambil mendengarkan suara khas dari Matthew Bellamy mengumandangkan lagu yang berjudul “Mercy” dari album baru Muse, saya membaca berita portal online detikcom yang selalu menemani hari-hari saya memenuhi informasi yang sekiranya dibutuhkan atau untuk update kejadian yang telah berlangsung dibelahan bumi lainnya. Seperti biasa, kolom sepakbola -selain kolom teknologi- merupakan asupan informasi yang sangat penting untuk saya. Mata saya berhenti sejenak saat melihat judul berita “Mengabadikan Sir Bobby Charlton”, seorang legenda sepak bola Inggris dan klub Manchester United, dan salah satu orang yang selamat dari tragedi Munchen. Kebetulan beliau ini saya lihat saat pertandingan Manchester United melawan Everton di Old Trafford tadi malam.
Sebelum pertandingan yang mempertemukan Manchester United melawan Everton, ada momen peresmian tribun di stadion Old Trafford yang diberi nama “Sir Boby Charlton Stand” yang berhadapan langsung dengan tribun “Sir Alex Ferguson Stand”. Tribun yang terletak disebelah selatan ini merupakan tribun untuk kelas VIP, dan juga letak adanya ruang ganti para pemain. Pertandingan yang disiarkan langsung oleh SCTV tersebut bersamaan dengan berlangsungnya Final Piala Bhayangkara yang mempertemukan Arema vs Persib Bandung dan pada saat itu sudah memasuki babak kedua.
Kebetulan kedua klub tersebut –MU dan Arema- merupakan tim sepakbola favorit saya, sehingga saat keduanya disiarkan secara hampir bersamaan otomatis remot TV yang selalu digenggaman tangan saya juga sangat lincah mengganti-ganti channel setiap beberapa detik untuk melihat update pertandingan. Kebetulan saat peresmian tribun “Sir Bobby Charlton Stand” saya tidak terlalu mengikutinya secara seksama, karena Arema vs Persib Bandung sedang panas-panasnya, toh nanti saya bisa membacanya di berita atau menontonnya di Youtube untuk peresmian tribun tersebut -pikir saya-.
Dan benar juga, Detikcom merangkum berita peresmian tribun tersebut, tribun yang diabadikan untuk seorang legenda besar Inggris dan Manchester United. Disana diceritakan secara ringkas momen peresmian tersebut, dan juga potongan-potongan komentar dari beberapa tokoh penting, salah satunya adalah Van Gaal yang merupakan Manajer Manchester United saat ini. Dari kutipan komentar Van Gaal inilah yang membuat saya tertarik, berikut komentar Van Gaal yang saya kutip dari Detikcom
"Fantastis. Merupakan sebuah kehormatan tersendiri buat saya melihat bagaimana kultur sepakbola Inggris menghormati para pemain mereka --sungguh luar biasa. Ketika semua orang melakukan standing ovation untuk Sir Bobby, saya menitikkan air mata. Saya amat menyukai momen itu dan dia layak mendapatkannya. Saya menyaksikan Sir Bobby dan Jimmy Greaves (legenda Chelsea dan Tottenham Hotspur, red) ketika kecil, mereka adalah idola saya," ujar Van Gaal.
Entah kenapa komentar Van Gaal ini membuat pikiran saya terbang jauh melewati dimensi waktu berimajinasi dengan tokoh-tokoh besar masa lalu yang gerak kehidupannya berdampak hingga hari ini, Jika diamati, penghargaan yang ditrerima Sir Bobby Cahrlton ini berasal dari pengorbanannya terhadap apa yang dicintainya, dalam hal ini adalah MU dan Timnas Inggris. Sama dengan tokoh-tokoh besar lainnya, seperti misalnya Peter –Orang yang diakui sebagai Paus Pertama oleh Gereja Katolik-. Seandainya Peter pada saat itu tetap lari dari kejaran tentara Romawi dan tidak kembali ke Roma yang pada akhirnya dia di salib –Peter meminta untuk disalib dengan kepala dibawah karena tidak pantas di salib dengan posisi yang sama dengan Yesus-, mungkin agama Kristen atau Katolik tidak bisa berdisi sebesar sekarang, dan pengorbanan yang dilakukan Peter ini mungkin adalah awal episode kebangkitan agama yang dibawa oleh Isa Almasih tersebut.
Pun demikian dengan peristiwa perjanjian Hudaibiyah yang terjadi pada masa Nabi Muhammad SAW, pada saat persitiwa tersebut kekuatan pasukan Islam yang dipimpin Nabi Muhammad SAW sebenarnya bisa digunakan untuk mengalahkan pasukan Kafir. Namun bukannya melawan, Nabi Muhammad SAW malah memilih untuk dilakukan perundingan. Perundingan tersebut dilakukan melalui Teks Perjanjian –yang dikenal dengan Perjanjian Hudaibiyah- antara kaum Muslim dan kaum Kafir. Pada Teks perjanjian tersebut diawali dengan bismillahirrohmanirrohim. Namun ditentang keras oleh kaum Kafir karena mereka tidak menghendaki agama yang dibawa Nabi Muhammad SAW dan Nabi-pun menyetujuinya dengan menghapus kata-kata tersebut. Pada saat teks perjanjian sampai pada kalimat “Tulislah; Inilah yang sudah disetujui oleh Muhammad Rasulullah dan Suhail bin Amr”, kembali kaum Kafir protes karena mereka tidak mengakui kalau Nabi Muhammad SAW itu utusan Allah. Kembali Nabi menyetujui untuk menghapusnya dan hanya ditulis “Muhammad” saja. Hal tersebut membuat para sahabat yang salah satunya yaitu Umar bin Khattab menjadi geram dan emosi karena perjanjian tersebut dirasa merendahkan Islam.
Pada akhir perundingan, Umar pun mendatangi Abu Bakr dan menanyakannya kenapa Nabi mau saja menuruti permintaan kaum Kafir tersebut. Abu Bakr menjelaskan kepada Umar bahwa Nabi Muhammad adalah Rasulullah, utusan Allah dan Abu Bakr bersaksi mengakui hal tesebut. Namun karena masih geram dan kesal akhirnya Umar menghadap ke Nabi Muhammad SAW dan menanyakan hal serupa, dengan sabar dan keteguhan hati Nabi tidak mengubah keputusannya, dan diakhir percakapan mereka Nabi Muhammad berkata “Aku hamba Allah dan Rasul-Nya. Aku takkan melanggar perintah-Nya dan Dia tak akan menyesatkanku”.
Rasa geram dan kesal yang dirasakan oleh Umar mungkin bisa kita maklumi, dan kepatuhan yang luar biasa dari Abu Bakr terhadap ketupusan Nabi Muhammad SAW juga patut kita apresiasi tinggi. Namun kenapa Nabi Muhammad SAW mau melakukan itu semua? Kenapa Beliau mau mengalah terhadap kaum Kafir tersebut? Kenapa Beliau menyetujui perjanjian yang terkesan merugikan umat Islam?
Sejarah mencatat bahwa perjanjian tersebut pada akhirnya bisa menjadikan Islam untuk pertama kalinya bisa duduk sejajar dan diakui eksistensinya. Sehingga pada saat perjanjian tersebut dilanggar oleh kaum Kafir, kejadian tersebut dapat digunakan Nabi sebagai alasan legal untuk menguasai Makkah yang dieknal dengan Fathu Makkah.
Pada akhirnya waktu pula yang pada akhirnya menjadi saksi atas pengorbanan tersebut, dari Sir Bobby Charlton yang mencurahkan segenap kemampuannya untuk klub yang dicintainya sehingga namanya diabadikan menjadi nama tribun di Old Trafford. Dari pengorbanan Peter yang berujung pada bangkitnya Katolik dan pada akhirnya Peter diakui sebagai Paus pertama. Dan juga pengorbanan Nabi Muhammad atas kesabarannya yang lebih memilih sebuah perundingan dengan kaum Kafir, meskipun  pada saat itu perundingan tersebut dirasa merugikan umat Islam, hingga pada akhirnya terjadinya peristiwa Fathu Makkah yang menjadi titik balik kebesaran Islam. Semua pengorbanan tersebut tentunya tidak akan ada hasilnya apabila tanpa dijalani dengan kesabaran, keyakinan, keikhlasan dan juga rasa cinta terhadap apa yang diyakininya tersebut.
Kita bisa mengambil beberapa pelajaran dari tokoh-tokoh diatas, meskipun tidak terbenak untuk menjadi orang besar seperti mereka, paling tidak dengan selalu konsisten melakukan kebaikan sekecil apapun itu nantinya akan memiliki dampak yang luar biasa. Pengorbanan tidak akan menghasilkan keburukan apabila dilalui dengan ikhlas dan sabar, karena kata Tuhan, Innallaha ma’ash shabirin. Sungguh, Allah bersama orang-orang yang sabar. 
Akhir kata, tulisan ini merujuk pada Detikcom, Wikipedia, dan juga Buku yang berjudul Ashabul Kahfi Melek 3 Abad karya Nadirsyah Hosen & Nurussyariah Hammado.

Wassalam,

4 april 2016,
Cianjur yang langitnya selalu galau