Sabtu, 21 Juli 2012

Islam, Perjuangan Etis ataukah Ideologi?

Artikel ini merupakan tulisan KH. Abdurrahman Wahid dalam bukunya "Islamku Islam Anda Islam Kita"

Pada suatu pagi selepas olahraga jalan-jalan, penulis diminta oleh sejumlah orang untuk memberikan apa yang mereka namakan “petuah”. Saat itu, ada Kyai Aminullah Muchtar dari Bekasi, sejumlah aktifis NU dan PKB dan sekelompok pengikut aliran kepercayaan dari Samosir. Dalam kesempatan itu, penulis mengemukakan pentingnya memahami arti yang benar tentang Islam. Karena ditafsirkan secara tidak benar, maka Islam tampil sebagai ajakan untuk menggunakan kekerasan/ terorisme dan tidak memperhatikan suara-suara moderat. Padahal, justru Islam-lah pembawa pesan-pesan persaudaraan abadi antara umat manusia, bila ditafsirkan secara benar. Pada kesempatan itu, penulis mengajak terlebih dahulu memahami fungsi Islam bagi kehidupan manusia. Kata al-Qurân, Nabi Muhammad Saw diutus tidak lain untuk membawakan amanat persaudaraan dalam kehidupan (wa mâ arsalnâka illâ rahmatan lil ‘âlamîn) (QS al-Anbiya [21]:107), dengan kata “rahmah” diambilkan dari pengertian “rahim” ibu, dengan demikian manusia semuanya bersaudara. Kata “’alamîn” di sini berarti manusia, bukannya berarti semua makhluk yang ada. Jadi tugas kenabian yang utama adalah membawakan persaudaraan yang diperlukan guna memelihara keutuhan manusia dan jauhnya tindak kekerasan dari kehidupan. Bahkan dikemukakan penulis, kaum muslimin diperkenankan menggunakan kekerasan hanya kalau aqidah mereka terancam, atau mereka diusir dari tempat tinggalnya (idzâ ukhriju min diyârihim). Kemudian, penulis menyebutkan disertasi doktor dari Charles Torrey yang diajukan kepada Universitas Heidelberg di Jerman tahun 1880. Dalam disertasi itu, Torrey mengemukakan bahwa kitab suci al-Qurân menggunakan istilah-istilah paling duniawi, seperti kata “rugi”, “untung” dan “panen”, untuk menyatakan hal-hal yang paling dalam dari keyakinan manusia. Umpamanya saja, ungkapan “ia di akhirat menjadi orang-orang yang merugi (perniagaannya) (wa huwa fi al-âkhirati min alkhâsirîn)” (QS Ali Imran [3]:85). Begitu juga ayat lain, “menghutangi Allah dengan hutang yang baik (yuqridhullâha qardhan hasanan)” (QS al-Baqarah [2]:245), serta ayat “barang siapa menginginkan panen di akhirat, akan Ku-tambahi panenannya (man kâna yurîdu hartsa al-âkhirati nazid lahû fi hartsihi)” (QS al-Syûra [42]:20).

Dalam uraian selanjutnya, penulis mengemukakan pengertian negara dari kata “daulah”, yang tidak dikenal oleh al-Qur’an. Dalam hal ini, kata tersebut mempunyai arti lain, yaitu “berputar” atau “beredar”, yaitu dalam ayat “agar harta yang terkumpul itu tidak berputar/beredar antara orang-orang kaya saja di lingkungan anda semua (kailâ yakûna dûlatan baina al-aghniyâ’i minkum)” (QS al-Hasyr (59):7).

Kamis, 19 Juli 2012

Catatan Akhir Kuliah 1

Aku teringat pertama kali ke Malang waktu Bapakku di ajak berlibur oleh Pak Sarozi –Kiai deket rumah- untuk liburan –entah dalam rangka apa liburannya aku tidak ingat-. Waktu itu aku masih sangat kecil, mungkin belum menginjak TK. Sepanjang perjalanan dari Probolinggo ke Malang dan sebaliknya aku selalu bertanya sama bapak “mana Malang, mana Malang?”, meskipun sudah sampai Malang aku masih saja bertanya-tanya seperti itu sama Bapak karena aku tidak mengetahui Malang itu apa, yang aku tahu Malang adalah sebuah ungkapan untuk menyatakan sebuah perasaan, yaitu sinonimnya kasihan. Liburan waktu itu yang aku ingat yaitu mengunjungi tempat wisata Sengkaling dan bermain wahana air dengan Bapak dan Pak Kiai, bermain sepeda air dan wahana lainnya. Itulah momen singkat yang aku ingat tentang kunjungaku ke Malang pertama kali, berlibur dengan Bapak dan Pak Kiai. Pengalaman kedua tentang Malang adalah ketika liburan kelas 6 Sekolah Dasar, pada kesempatan ini pengetahuanku tentang Malang sudah semakin berkembang dimana Malang dikenal dengan buah Apelnya dan kotanya yang sejuk dan menyegarkan. Namun ada pertanyaan dariku yang masih anak-anak yaitu kenapa apel Malang itu warnanya hijau dan kecil-kecil, berbeda dengan apel-apel –apel impor dari China- yang aku temui di pasar Probolinggo yang besar-besar dan warnanya merah. Sehingga saat hendak membelikan oleh-oleh apel untuk orang-orang di rumah aku membelikan apel yang warnanya ada merah-merahnya, karena pikirku waktu itu warna merah pada apel adalah tanda bahwa buah apel tersebut manis. Eh, ternyata sesampainya di rumah dan waktu memakan apel tersebut ternyata rasanya tetap asam, tapi tetap saja dimakan sama orang tuaku karena kata Bapak dan Ibuku memang begitulah rasa apel Malang yaitu manis asam, meskipun aku tidak bisa merasakan kenikmatan memakan apel yang asam itu. hehehe.

Malang juga merupakan tempat favorit untuk mengenyam pendidikan kuliah bagi saudara-saudaraku yang lebih tua, juga ada salah satu sanak saudara dari keluarga Ibuku yang berdomisili di Malang tepatnya di Singosari. Dan pernah salah satu saudari tuaku berkata kalau Malang itu kota kedua baginya, karena begitu banyaknya sanak keluarga yang mengenyam pendidikan perguruan tinggi disana, dan salah satunya saat ini adalah aku.