Sambil
mendengarkan suara khas dari Matthew Bellamy mengumandangkan lagu yang berjudul
“Mercy” dari album baru Muse, saya membaca berita portal online detikcom
yang selalu menemani hari-hari saya memenuhi informasi yang sekiranya
dibutuhkan atau untuk update kejadian yang telah berlangsung dibelahan bumi
lainnya. Seperti biasa, kolom sepakbola -selain kolom teknologi- merupakan
asupan informasi yang sangat penting untuk saya. Mata saya berhenti sejenak
saat melihat judul berita “Mengabadikan Sir Bobby Charlton”, seorang
legenda sepak bola Inggris dan klub Manchester United, dan salah satu orang
yang selamat dari tragedi Munchen. Kebetulan beliau ini saya lihat saat
pertandingan Manchester United melawan Everton di Old Trafford tadi malam.
Sebelum
pertandingan yang mempertemukan Manchester
United melawan Everton, ada momen peresmian tribun di stadion Old Trafford yang
diberi nama “Sir Boby Charlton Stand” yang berhadapan langsung dengan
tribun “Sir Alex Ferguson Stand”. Tribun yang terletak disebelah selatan ini
merupakan tribun untuk kelas VIP, dan juga
letak adanya ruang ganti para pemain. Pertandingan yang disiarkan langsung oleh
SCTV tersebut bersamaan dengan berlangsungnya Final Piala Bhayangkara yang
mempertemukan Arema vs Persib Bandung
dan pada saat itu sudah memasuki babak kedua.
Kebetulan
kedua klub tersebut –MU dan Arema- merupakan tim sepakbola favorit saya,
sehingga saat keduanya disiarkan secara hampir bersamaan otomatis remot TV yang
selalu digenggaman tangan saya juga sangat lincah mengganti-ganti channel setiap
beberapa detik untuk melihat update pertandingan. Kebetulan saat peresmian
tribun “Sir Bobby Charlton Stand” saya tidak terlalu mengikutinya secara
seksama, karena Arema vs Persib Bandung sedang panas-panasnya, toh nanti saya
bisa membacanya di berita atau menontonnya di Youtube untuk peresmian tribun
tersebut -pikir saya-.
Dan
benar juga, Detikcom merangkum berita peresmian tribun tersebut, tribun yang
diabadikan untuk seorang legenda besar Inggris dan Manchester United. Disana
diceritakan secara ringkas momen peresmian tersebut, dan juga potongan-potongan
komentar dari beberapa tokoh penting, salah satunya adalah Van Gaal yang
merupakan Manajer Manchester United saat ini. Dari kutipan komentar Van Gaal
inilah yang membuat saya tertarik, berikut komentar Van Gaal yang saya kutip
dari Detikcom
"Fantastis.
Merupakan sebuah kehormatan tersendiri buat saya melihat bagaimana kultur
sepakbola Inggris menghormati para pemain mereka --sungguh luar biasa. Ketika
semua orang melakukan standing ovation untuk Sir Bobby, saya
menitikkan air mata. Saya amat menyukai momen itu dan dia layak mendapatkannya.
Saya menyaksikan Sir Bobby dan Jimmy Greaves (legenda Chelsea
dan Tottenham Hotspur, red) ketika kecil, mereka adalah idola saya," ujar
Van Gaal.
Entah
kenapa komentar Van Gaal ini membuat pikiran saya terbang jauh melewati dimensi
waktu berimajinasi dengan tokoh-tokoh besar masa lalu yang gerak kehidupannya
berdampak hingga hari ini, Jika diamati, penghargaan yang ditrerima Sir
Bobby Cahrlton ini berasal dari pengorbanannya terhadap apa yang dicintainya,
dalam hal ini adalah MU dan Timnas Inggris. Sama dengan tokoh-tokoh besar
lainnya, seperti misalnya Peter –Orang yang diakui sebagai Paus Pertama oleh
Gereja Katolik-. Seandainya Peter pada saat itu tetap lari dari kejaran tentara
Romawi dan tidak kembali ke Roma yang pada akhirnya dia di salib –Peter meminta
untuk disalib dengan kepala dibawah karena tidak pantas di salib dengan posisi
yang sama dengan Yesus-, mungkin agama Kristen atau Katolik tidak bisa berdisi
sebesar sekarang, dan pengorbanan yang dilakukan Peter ini mungkin adalah awal
episode kebangkitan agama yang dibawa oleh Isa Almasih tersebut.
Pun
demikian dengan peristiwa perjanjian Hudaibiyah yang terjadi pada masa Nabi
Muhammad SAW, pada saat persitiwa tersebut kekuatan pasukan Islam yang dipimpin
Nabi Muhammad SAW sebenarnya bisa digunakan untuk mengalahkan pasukan Kafir.
Namun bukannya melawan, Nabi Muhammad SAW malah memilih untuk dilakukan perundingan.
Perundingan tersebut dilakukan melalui Teks Perjanjian –yang dikenal dengan
Perjanjian Hudaibiyah- antara kaum Muslim dan kaum Kafir. Pada Teks perjanjian
tersebut diawali dengan bismillahirrohmanirrohim. Namun ditentang keras
oleh kaum Kafir karena mereka tidak menghendaki agama yang dibawa Nabi Muhammad
SAW dan Nabi-pun menyetujuinya dengan menghapus kata-kata tersebut. Pada saat
teks perjanjian sampai pada kalimat “Tulislah; Inilah yang sudah disetujui
oleh Muhammad Rasulullah dan Suhail bin Amr”, kembali kaum Kafir protes
karena mereka tidak mengakui kalau Nabi Muhammad SAW itu utusan Allah. Kembali
Nabi menyetujui untuk menghapusnya dan hanya ditulis “Muhammad” saja. Hal
tersebut membuat para sahabat yang salah satunya yaitu Umar bin Khattab menjadi
geram dan emosi karena perjanjian tersebut dirasa merendahkan Islam.
Pada
akhir perundingan, Umar pun mendatangi Abu Bakr dan menanyakannya kenapa Nabi
mau saja menuruti permintaan kaum Kafir tersebut. Abu Bakr menjelaskan kepada
Umar bahwa Nabi Muhammad adalah Rasulullah, utusan Allah dan Abu Bakr bersaksi
mengakui hal tesebut. Namun karena masih geram dan kesal akhirnya Umar
menghadap ke Nabi Muhammad SAW dan menanyakan hal serupa, dengan sabar dan
keteguhan hati Nabi tidak mengubah keputusannya, dan diakhir percakapan mereka
Nabi Muhammad berkata “Aku hamba Allah dan Rasul-Nya. Aku takkan melanggar
perintah-Nya dan Dia tak akan menyesatkanku”.
Rasa
geram dan kesal yang dirasakan oleh Umar mungkin bisa kita maklumi, dan
kepatuhan yang luar biasa dari Abu Bakr terhadap ketupusan Nabi Muhammad SAW
juga patut kita apresiasi tinggi. Namun kenapa Nabi Muhammad SAW mau melakukan
itu semua? Kenapa Beliau mau mengalah terhadap kaum Kafir tersebut? Kenapa
Beliau menyetujui perjanjian yang terkesan merugikan umat Islam?
Sejarah
mencatat bahwa perjanjian tersebut pada akhirnya bisa menjadikan Islam untuk
pertama kalinya bisa duduk sejajar dan diakui eksistensinya. Sehingga pada saat
perjanjian tersebut dilanggar oleh kaum Kafir, kejadian tersebut dapat
digunakan Nabi sebagai alasan legal untuk menguasai Makkah yang dieknal dengan
Fathu Makkah.
Pada
akhirnya waktu pula yang pada akhirnya menjadi saksi atas pengorbanan tersebut,
dari Sir Bobby Charlton yang mencurahkan segenap kemampuannya untuk klub
yang dicintainya sehingga namanya diabadikan menjadi nama tribun di Old
Trafford. Dari pengorbanan Peter yang berujung pada bangkitnya Katolik dan pada
akhirnya Peter diakui sebagai Paus pertama. Dan juga pengorbanan Nabi Muhammad
atas kesabarannya yang lebih memilih sebuah perundingan dengan kaum Kafir,
meskipun pada saat itu perundingan
tersebut dirasa merugikan umat Islam, hingga pada akhirnya terjadinya peristiwa
Fathu Makkah yang menjadi titik balik kebesaran Islam. Semua pengorbanan
tersebut tentunya tidak akan ada hasilnya apabila tanpa dijalani dengan kesabaran,
keyakinan, keikhlasan dan juga rasa cinta terhadap apa yang diyakininya
tersebut.
Kita
bisa mengambil beberapa pelajaran dari tokoh-tokoh diatas, meskipun tidak
terbenak untuk menjadi orang besar seperti mereka, paling tidak dengan selalu
konsisten melakukan kebaikan sekecil apapun itu nantinya akan memiliki dampak
yang luar biasa. Pengorbanan tidak akan menghasilkan keburukan apabila dilalui
dengan ikhlas dan sabar, karena kata Tuhan, Innallaha ma’ash shabirin.
Sungguh, Allah bersama orang-orang yang sabar.
Akhir kata, tulisan ini merujuk pada Detikcom, Wikipedia, dan juga Buku yang berjudul Ashabul Kahfi Melek 3 Abad karya Nadirsyah Hosen & Nurussyariah Hammado.
Wassalam,
4 april 2016,
Cianjur
yang langitnya selalu galau