Senin, 04 April 2016

Memahami Arti Pengorbanan Dan Kesabaran



Sambil mendengarkan suara khas dari Matthew Bellamy mengumandangkan lagu yang berjudul “Mercy” dari album baru Muse, saya membaca berita portal online detikcom yang selalu menemani hari-hari saya memenuhi informasi yang sekiranya dibutuhkan atau untuk update kejadian yang telah berlangsung dibelahan bumi lainnya. Seperti biasa, kolom sepakbola -selain kolom teknologi- merupakan asupan informasi yang sangat penting untuk saya. Mata saya berhenti sejenak saat melihat judul berita “Mengabadikan Sir Bobby Charlton”, seorang legenda sepak bola Inggris dan klub Manchester United, dan salah satu orang yang selamat dari tragedi Munchen. Kebetulan beliau ini saya lihat saat pertandingan Manchester United melawan Everton di Old Trafford tadi malam.
Sebelum pertandingan yang mempertemukan Manchester United melawan Everton, ada momen peresmian tribun di stadion Old Trafford yang diberi nama “Sir Boby Charlton Stand” yang berhadapan langsung dengan tribun “Sir Alex Ferguson Stand”. Tribun yang terletak disebelah selatan ini merupakan tribun untuk kelas VIP, dan juga letak adanya ruang ganti para pemain. Pertandingan yang disiarkan langsung oleh SCTV tersebut bersamaan dengan berlangsungnya Final Piala Bhayangkara yang mempertemukan Arema vs Persib Bandung dan pada saat itu sudah memasuki babak kedua.
Kebetulan kedua klub tersebut –MU dan Arema- merupakan tim sepakbola favorit saya, sehingga saat keduanya disiarkan secara hampir bersamaan otomatis remot TV yang selalu digenggaman tangan saya juga sangat lincah mengganti-ganti channel setiap beberapa detik untuk melihat update pertandingan. Kebetulan saat peresmian tribun “Sir Bobby Charlton Stand” saya tidak terlalu mengikutinya secara seksama, karena Arema vs Persib Bandung sedang panas-panasnya, toh nanti saya bisa membacanya di berita atau menontonnya di Youtube untuk peresmian tribun tersebut -pikir saya-.
Dan benar juga, Detikcom merangkum berita peresmian tribun tersebut, tribun yang diabadikan untuk seorang legenda besar Inggris dan Manchester United. Disana diceritakan secara ringkas momen peresmian tersebut, dan juga potongan-potongan komentar dari beberapa tokoh penting, salah satunya adalah Van Gaal yang merupakan Manajer Manchester United saat ini. Dari kutipan komentar Van Gaal inilah yang membuat saya tertarik, berikut komentar Van Gaal yang saya kutip dari Detikcom
"Fantastis. Merupakan sebuah kehormatan tersendiri buat saya melihat bagaimana kultur sepakbola Inggris menghormati para pemain mereka --sungguh luar biasa. Ketika semua orang melakukan standing ovation untuk Sir Bobby, saya menitikkan air mata. Saya amat menyukai momen itu dan dia layak mendapatkannya. Saya menyaksikan Sir Bobby dan Jimmy Greaves (legenda Chelsea dan Tottenham Hotspur, red) ketika kecil, mereka adalah idola saya," ujar Van Gaal.
Entah kenapa komentar Van Gaal ini membuat pikiran saya terbang jauh melewati dimensi waktu berimajinasi dengan tokoh-tokoh besar masa lalu yang gerak kehidupannya berdampak hingga hari ini, Jika diamati, penghargaan yang ditrerima Sir Bobby Cahrlton ini berasal dari pengorbanannya terhadap apa yang dicintainya, dalam hal ini adalah MU dan Timnas Inggris. Sama dengan tokoh-tokoh besar lainnya, seperti misalnya Peter –Orang yang diakui sebagai Paus Pertama oleh Gereja Katolik-. Seandainya Peter pada saat itu tetap lari dari kejaran tentara Romawi dan tidak kembali ke Roma yang pada akhirnya dia di salib –Peter meminta untuk disalib dengan kepala dibawah karena tidak pantas di salib dengan posisi yang sama dengan Yesus-, mungkin agama Kristen atau Katolik tidak bisa berdisi sebesar sekarang, dan pengorbanan yang dilakukan Peter ini mungkin adalah awal episode kebangkitan agama yang dibawa oleh Isa Almasih tersebut.
Pun demikian dengan peristiwa perjanjian Hudaibiyah yang terjadi pada masa Nabi Muhammad SAW, pada saat persitiwa tersebut kekuatan pasukan Islam yang dipimpin Nabi Muhammad SAW sebenarnya bisa digunakan untuk mengalahkan pasukan Kafir. Namun bukannya melawan, Nabi Muhammad SAW malah memilih untuk dilakukan perundingan. Perundingan tersebut dilakukan melalui Teks Perjanjian –yang dikenal dengan Perjanjian Hudaibiyah- antara kaum Muslim dan kaum Kafir. Pada Teks perjanjian tersebut diawali dengan bismillahirrohmanirrohim. Namun ditentang keras oleh kaum Kafir karena mereka tidak menghendaki agama yang dibawa Nabi Muhammad SAW dan Nabi-pun menyetujuinya dengan menghapus kata-kata tersebut. Pada saat teks perjanjian sampai pada kalimat “Tulislah; Inilah yang sudah disetujui oleh Muhammad Rasulullah dan Suhail bin Amr”, kembali kaum Kafir protes karena mereka tidak mengakui kalau Nabi Muhammad SAW itu utusan Allah. Kembali Nabi menyetujui untuk menghapusnya dan hanya ditulis “Muhammad” saja. Hal tersebut membuat para sahabat yang salah satunya yaitu Umar bin Khattab menjadi geram dan emosi karena perjanjian tersebut dirasa merendahkan Islam.
Pada akhir perundingan, Umar pun mendatangi Abu Bakr dan menanyakannya kenapa Nabi mau saja menuruti permintaan kaum Kafir tersebut. Abu Bakr menjelaskan kepada Umar bahwa Nabi Muhammad adalah Rasulullah, utusan Allah dan Abu Bakr bersaksi mengakui hal tesebut. Namun karena masih geram dan kesal akhirnya Umar menghadap ke Nabi Muhammad SAW dan menanyakan hal serupa, dengan sabar dan keteguhan hati Nabi tidak mengubah keputusannya, dan diakhir percakapan mereka Nabi Muhammad berkata “Aku hamba Allah dan Rasul-Nya. Aku takkan melanggar perintah-Nya dan Dia tak akan menyesatkanku”.
Rasa geram dan kesal yang dirasakan oleh Umar mungkin bisa kita maklumi, dan kepatuhan yang luar biasa dari Abu Bakr terhadap ketupusan Nabi Muhammad SAW juga patut kita apresiasi tinggi. Namun kenapa Nabi Muhammad SAW mau melakukan itu semua? Kenapa Beliau mau mengalah terhadap kaum Kafir tersebut? Kenapa Beliau menyetujui perjanjian yang terkesan merugikan umat Islam?
Sejarah mencatat bahwa perjanjian tersebut pada akhirnya bisa menjadikan Islam untuk pertama kalinya bisa duduk sejajar dan diakui eksistensinya. Sehingga pada saat perjanjian tersebut dilanggar oleh kaum Kafir, kejadian tersebut dapat digunakan Nabi sebagai alasan legal untuk menguasai Makkah yang dieknal dengan Fathu Makkah.
Pada akhirnya waktu pula yang pada akhirnya menjadi saksi atas pengorbanan tersebut, dari Sir Bobby Charlton yang mencurahkan segenap kemampuannya untuk klub yang dicintainya sehingga namanya diabadikan menjadi nama tribun di Old Trafford. Dari pengorbanan Peter yang berujung pada bangkitnya Katolik dan pada akhirnya Peter diakui sebagai Paus pertama. Dan juga pengorbanan Nabi Muhammad atas kesabarannya yang lebih memilih sebuah perundingan dengan kaum Kafir, meskipun  pada saat itu perundingan tersebut dirasa merugikan umat Islam, hingga pada akhirnya terjadinya peristiwa Fathu Makkah yang menjadi titik balik kebesaran Islam. Semua pengorbanan tersebut tentunya tidak akan ada hasilnya apabila tanpa dijalani dengan kesabaran, keyakinan, keikhlasan dan juga rasa cinta terhadap apa yang diyakininya tersebut.
Kita bisa mengambil beberapa pelajaran dari tokoh-tokoh diatas, meskipun tidak terbenak untuk menjadi orang besar seperti mereka, paling tidak dengan selalu konsisten melakukan kebaikan sekecil apapun itu nantinya akan memiliki dampak yang luar biasa. Pengorbanan tidak akan menghasilkan keburukan apabila dilalui dengan ikhlas dan sabar, karena kata Tuhan, Innallaha ma’ash shabirin. Sungguh, Allah bersama orang-orang yang sabar. 
Akhir kata, tulisan ini merujuk pada Detikcom, Wikipedia, dan juga Buku yang berjudul Ashabul Kahfi Melek 3 Abad karya Nadirsyah Hosen & Nurussyariah Hammado.

Wassalam,

4 april 2016,
Cianjur yang langitnya selalu galau