Selasa, 18 November 2014

Ada cerita di pulau Seribu

Pada mulanya saya tidak terlalu tertarik untuk ikutan ke Pulau Harapan, alasan utamanya karena pengeluaran pada bulan tersebut yang begitu lumayan tinggi dan juga karena saya anak yang dibesarkan didaerah yang dekat dengan lautan sehingga yang ada dipikiran seindah-indahnya lautan pasti ya gitu-gitu saja –meskipun kenyataannya tidak begitu karena keberadaan teman yang membuat berbeda-. Namun apa daya, janji sudah terucap dan tidak keren ceritanya kalau tiba-tiba saya undur diri dari janji yang sudah dibuat.

Dan, hari itupun tiba. Sabtu tanggal 15 November 2014 sesuai schedule yang beredar, saya beserta keempat teman kantor saya, Talia, Rika, Mbak Meylisa dan Mbak Ulfa –Mungkin karena kiamat sudah dekat jadi teman saya cewek semua. Hahaha- janjian kumpul di kantor jam set 6 pagi karena dari schedule yang ada kapal akan berangkat dari Muara Angke pukul 6 pagi. Jadwal yang absurd, begitulah yang ada dibenak saya waktu itu. Karena saya tidak yakin kalau BSD menuju Muara Angke hanya ditempuh dalam waktu set jam dan tidak mungkin juga kapal akan berangkat jam 6 pagi karena dijadwal ditulis kalau kita akan tiba di Pulau Harapan sekitar jam 10 dengan perjalanan laut sekitar 2 sampai 2,5 jam perjalanan. Jadi kemungkinan kapal akan berangkat sekitar jam 7 atau lebih, dan ternyata benar saja kapal berangkat hampir jam 8 pagi. Kita berangkat dari kantor menuju Muara Angke menggunakan Taxi Express dan kebetulan ada promo yang ditawarkan oleh sopir Taxi yang bernama Pak Bambang, promonya kita tinggal menginstall aplikasi bernama easy taxi dan membuat akun di aplikasi tersebut dan setelah itu akan mendapat potongan sebesar 20.000, promo ini hanya berlaku hingga akhir November. Dan, sekitar 45 menit perjalanan akhirnya kita sampai di Muara Angke.

Sekilas tentang Muara Angke, saya tidak tahu pasti Muara Angke itu tempat apa. Tapi kata teman-teman saya di Jakarta Muara Angke adalah tempat pelelangan Ikan. Pengalaman pertama menginjakkan kaki di Muara Angke adalah tempat tersebut begitu bau, bau busuk seperti peceren –got-. Mungkin karena banyaknya ikan yang ada di tempat pelelangan tersebut yang menyisakan bau yang tidak sedap. Infrastruktur yang tidak memadai dan moda transportasi yang carut marut adalah pemandangan yang biasa bagi para nelayan dan mungkin juga bagi para wisatawan-wisatawan yang hendak berlibur di kepulauan seribu. Mudah-mudahan Pak Ahok ada niatan untuk memperbaiki infrastruktur di Muara Angke sehingga banyak menyedot wisatawan yang hendak berlibur dan juga masalah sampah yang sudah jadi budaya orang Indonesia yang suka membuang sampah dimana saja bahkan dilaut –WTF-.

Selama perjalanan ke Pulau Harapan, saya lebih mengenal beberapa individu teman-teman seperjalanan saya, salah satunya adalah makhluk yang sangat Narisis, teman saya bernama Rika. Berbekal HP-nya yang baru Xiaomi Redmi Note yang di dapat dari Flash Sale di Internet –perlu dicatat bahwa stok Redmi Note terbatas dan 10.000 unit ludes hanya dalam waktu 40 detik, waah berarti teman saya ini keren, Hehe- makhluk Narsis ini tidak henti-hentinya mengeksplore dirinya sebagai objek foto dengan pose-posenya yang itu-itu saja. Hahaha. Lanjut ke teman berikutnya, ada ratu tidur namanya Talia yang kerjaannya hanya tidur selama perjalanan disaat teman-teman yang lain sibuk melihat-lihat pemandangan atau sekedar foto-foto. Jadi kerjaan dia ya tidur, bangun sebentar, tidur lagi, bangun lagi dan tidur lagi. Cuma ada dua manusia normal sepanjang perjalanan yaitu Mbak Meylisa dan Mbak Ulfah karena hanya mereka yang dewasa. Hehe

Disambut dengan matahari yang begitu cerah dan menyegat kulit, akhirnya kita tiba di Pulau Harapan Sekitar jam 10 lebih. Pulau Harapan adalah salah satu pulau di kepulauan seribu yang lumayan padat penduduk, fasilitas umum seperti sekolah, puskesmas dan tempat ibadah sudah tersedia dipulau ini. Ohya, kita tidak hanya berlima melainkan ber 20 ditambah dengan teman-temannya Rika. Jadi total ada 14 cewek dan 6 cowok termasuk saya. Kebetulan untuk ke 5 cowok ini saya agak kurang nyambung tentang tema pembicaraan mereka, mungkin karena mereka sebagian besar masih duduk di bangku SMA dan masih semester awal kuliah jadi tema pembicaraannya tidak jauh-jauh dari menjadi jagoan di sekolahannya, berantem, mabok-mabokan dan bahkan ada yang cerita pernah make obat-obatan –entah beneran atau tidak saya Cuma dengerin aja- dan itu semua membosankan bagi saya.

Setelah makan dan istirahat, kita mulai perjalanan pertama untuk snorkeling. Pada awalnya saya tidak berminat ikutan snorkeling karena badan masih agak tidak fit –satu hari sebelum berangkat badan demam tinggi- jadi agak malas. Tapi karena dipakasa sama teman saya Talia dan karena keliatannya asik juga buat main basah-basahan akhirnya saya jebur air juga dan ketagihan. Haha. Ada cerita menarik saat snorkeling yaitu 2 orang cewek rombongan kita –yang kemayu dan selalu ribet dengan penampilan mereka- meminta difoto sama bapak-bapak pembawa kapal –yang juga merangkap sebagai tukang foto –menggunakan kamera tahan air dan guide selama perjalanan- hanya menggunakan daleman saja. Saat salah satu cewek sudah membuka kaos luar dan menyelam ke dalam air tiba-tiba saja bra yang menutupi dada dia terlepas namun meskipun begitu dia masih saja foto dengan pede, foto toples –saya baru sadar kalau branya lepas dari cerita Rika-. Wah menang banyak nih si Bapak, kata Rika saat cerita kejadian tersebut. Hahaha

Selama snorkeling kita tidak menemukan ikan-ikan, hanya ada terumbu karang yang lumayan keren. Setelah acara snorkeling acara selanjutnya adalah ke pulau Dolphin untuk istirahat sejenak dan makan. Selama di pulau ini saya menjadi tukang foto dadakan, dari kamera HP hingga kamera DSLR untuk memenuhi hasrat narsis teman-teman saya yang sudah kelewat batas. Hahaha. Selepas dari Pulau Dolphin kita menuju ke pulau Perak, pulau Perak itu pulau kecil yang dikelilingi pasir putih dan ditengahnya terdapat pepohonan lebat yang tumbuh, dan seperti biasa saya menjadi tukang foto yang hasil fotonya selalu diprotes apabila setiap kali foto hasil fotonya bagi salah satu teman cewek terlihat gendut –padahal udah gendut-. Hahaha

Sore menjelang, kita kembali lagi ke Pulau Harapan untuk istirahat, bersih-bersih badan, makan malam dan di tutup dengan acara bakar-bakar Ikan. Selama 2 hari di Pulau Harapan saya harus menggunakan air payau setiap kali mandi yang rasanya tidak enak bagi kulit, karena lengket dan apabila mandi busa sabun yang melengket di badan susah dibersihkan menggunakan air payau, tidak seperti air biasa. Selama di Pulau Harapan saya selalu berharap agar bisa menemukan air tawar untuk membasuh badan, dan terbesit di pikiran mungkin di Masjid ada air tawar. Masak di Masjid wudhunya pake air payau, pikir saya waktu itu. Akhirnya saya niat-niatin untuk shalat subuh di Masjid ditemanin gerimis yang lembut, tepat jam set 4 pagi saya bangun –tidur jam 1 karena susah tidur- menanti adzan. Saat ada suara orang mengaji saya bergegas langsung ke Masjid dan menuju ke kran tempat wudhu setelah shalat, dan jeng jeng jeng jeng airnya payau juga pemirsa. Hahaha

Dari schedule yang ada, pada hari minggu pagi seharusnya kita ada acara melihat sunrise. Tapi ya begitu, kebanyakan manusia-manusia ini bangunnya siang atau tidur lagi setelah shalat dan acara begituan tidak terlaksana. Setelah sarapan dan bersih-bersih badan acara selanjutnya adalah ke Pulau Bulat, sama seperti Pulau Perak, bedanya selain banyak pepohonan pulau ini lebih besar dan lebih asri dan bagus buat dijadikan objek foto dan seperti yang sudah-sudah saya menjadi tukang foto dadakan yang hasil fotonya masih aja di protes kalau tidak sesuai harapan mereka. Pemandangan di pulau ini bagus, air lautnya jernih, pasirnya berwarna putih dan banyak ubur-ubur kecil yang seliweran di sekitaran pulau. Sekitar sejam disana kita menuju ketempat selanjutnya yaitu tempat penangkaran puyuh, tempatnya dekat dengan pulau Harapan. Namun karena udara yang begitu panas dan kulit begitu lengket saya kurang bisa menikmati untuk yang satu dan terakhir ini.

Selepas dari penangkaran puyuh, kita kembali lagi ke Pulau Harapan untuk siap-siap pulang karena kapal akan berangkat jam 11 siang –realitanya berangkat jam 12-. Penumpang kapal saat pulang lebih penuh daripada saat kita berangkat dan perjalanan pulang terasa lebih lama daripada perjalanan saat kita berangkat. Selama kurang lebih dari 2,5 jam kita perjalanan akhirnya sampai juga di Muara Angke, karena destinasi perjalanan pulang yang berbeda sebagian besar banyak yang berpencar menuju tempat masing-masing. Saya dan formasi awal ditambah beberapa teman Rika pulang menggunakan commuter line di stasiun Kota Jakarta. Beberapa kali pindah kereta kita pulang ke tempat masing-masing.

Perjalanan yang menyenangkan, meskipun tidak tahu apakah bisa seperti ini lagi, namun saya ucapkan banyak terima kasih untuk teman-teman yang mengajak. Semoga di lain waktu entah saya masih ada disini atau tidak, kita bisa melakukan perjalanan bersama lagi. Dan mohon maaf sebesar-besarnya apabila ada kesalahan yang saya buat baik di sengaja ataupun tidak. 

Cerita belum berakhir, karena pada saat saya mencuci baju-baju kotor saya pada senin pagi. Ada satu celana jeans pendek, kaos dan cd yang itu bukan punya saya dan sudah terlanjur terendam di cucian. Ternyata itu punya salah satu anak rombongan kita saat trip kemarin, dan mau tidak mau dan dengan sangat terpaksa akhirnya saya cuci juga itu baju. Hadoooh…

-TAMAT-