Prestasi pertama –dan satu-satunya- yang aku peroleh di level pendidikan (Perguruan Tinggi) ini adalah dari cabang olahraga, yaitu sepak bola mini yang diprakarsai oleh lembaga olahraga kampus. Meskipun kebanyakan aku tidak dimainkan karena menjadi pemain cadangan, namun aku turut bahagia menjadi bagian dari para juara. Saat itu di final kami mengalahkan angkatan 2005, yang didalamnya terdapat salah satu kakak Disma yang bermain. Pertandingan berlangsung agak keras, karena mungkin tingginya ego dari beberapa pemain. Bagi kami yang masih Maba, hal tersebut merupakan momen terbaik untuk membuktikan kalau kami juga bisa menjadi yang terbaik, sedangkan bagi angkatan 2005 mungkin hal tersebut mempertaruhkan keberadaan mereka yang lebih dulu ada atau adanya sikap senioritas, terlebih di dalamnya ada pemain yang notabenya adalah kaka Disma.
Memang hadiah juara dalam bentuk materi itu tidak ada karena kami sepakat hadiah juara dibuat untuk makan bersama. Namun kebersamaan dan canda tawa para pemain adalah hal terpenting dari materi yang tidak seberapa. Tentang acara makan bersama, itu merupakan pengalaman pertamaku makan bersama dengan teman-teman baru -Maba-, karena sebelumnya acara makan bersama aku lakukan bersama teman-teman SMA
. Juga acara makan bersama itu merupakan pertama kalinya aku makan di tempat yang jauh dari kos, yaitu di daerah Dieng bertempat di Lalapan Mbak Eva. Pada waktu itu, bagiku lalapan tersebut merupakan lalapan terenak yang pernah aku makan jika dibandingkan dengan lalapan yang biasanya ada di pinggir jalan, secara harganya yang mahal tapi kualitas rasa tidak mengecewakan plus sambalnya yang sangat pedas.
Berbicara mengenai makanan, bagiku malang merupakan ladang bagi investor lalapan. Hehehe. Secara di setiap sudut kota ini hampir selalu ditemui yang namanya lalapan, entah itu berbentuk restoran, warung kecil ataupun gerobak. Untuk saat ini lalapan yang menjadi favoritku adalah lalapan dekat pintu keluar sebelah barat UB (samping stadion UB), karena ayam krispinya yang enak dan sambalnya yang lumayan enak. Kedua adalah lalapan depan Masjid Muhajirin yang bertempat di daerah kampus ITN, untuk lauk ayamnya mungkin biasa saja namun ada dua pilihan nasi yang diberikan yaitu nasi putih dan nasi kuning dan yang menjadi istimewa adalah sambalnya yang sangat hot, bikin keringetan. Semenjak hidup di Malang ini aku mendapat kesempatan yang besar untuk mencoba hidangan yang sebelumnya belum pernah atau jarang aku makan di Probolinggo, karena kalau di rumah aku tidak terbiasa makan diluar tetapi makan di rumah dengan hidangan masakan Ibuku. Selain lalapan, disini aku terbiasa makan nasi padang. Ada sedikit cerita mengenai nasi padang ini, yaitu dulu semenjak masih di Probolinggo nasi padang merupakan hidangan masakan yang harganya tidak murah dan aku belum pernah makan nasi padang yang ada di Probolinggo kecuali dulu pernah di belikan orang tua temanku saat aku bermain kerumahnya. Saat itu aku masih belum bisa menikmati hidangan nasi padang itu karena isinya yang hanya lauk, sambal hijau dan juga sayuran daun singkong. Hidangan yang sederhana namun mahal harganya. Akan tetapi nasi padang di Malang ini berbeda rasa dan harganya, sehingga lidahkupun kepincut dengan hidangan masakan ini. Hahaha.
Selain wisata kuliner kota Malang yang begitu beragam, ada juga kegiatan yang sering aku lakukan semenjak menjadi mahasiswa semester awal yaitu bermain futsal. Futsal merupakan olahraga yang begitu menyenangkan dan menjadi hobi tersendiri buatku. Aku bertemu dengan banyak teman dan juga banyak lawan yang menyenangkan hingga pada awal 2011 terjadi insiden kecil yang membuatku trauma untuk bermain futsal lagi hingga sekarang. Insiden itu bermula ketika ada acara reuni dengan panitia MMC angkatan tua, aku bermain futsal seperti biasanya dan kebetulan yang menjadi lawan kami memiliki tubuh yang besar dan kekar. Pada saat aku menjemput bola di pinggir lapangan dan mencoba untuk menahannya, tiba-tiba disebelah kiriku ada lawan yang bertubuh besar itu, dia menabrakku –entah dengan sengaja atau tidak- dan kakinya yang besar itu men-tackling siku kaki sebelah kiriku dan hasilnya aku langsung dibawa keluar lapangan karena tidak bisa melanjutkan pertandingan. Sakitnya yang luar biasa membuatku kesulitan untuk beraktifitas pada hari-hari selanjutnya, aku kesulitan untuk shalat dan untuk berjalan pun rasanya bukan main sakitnya. Meskipun saat ini sudah tidak terasa sakitnya, namun apabila ada kesalahan sedikit saja kaki kiriku berpijak pasti akan kambuh dan rasanya sungguh tidak menyenangkan. Dan futsal yang menjadi salah satu hobiku harus berakhir sudah.
Bersambung