Kamis, 21 April 2016

Pernikahan, Perceraian, Kartini dan Tagline Perempuan Selalu Benar



Dalam artikel BKKBN online dijelaskan bahwa pernikahan adalah pasangan suami istri yang diibaratkan bagai sebuah gunting yang memiliki dua arah tapi terikat jadi satu. Dengan ikatan itu maka sudut dan arah gunting mesti sama derajatnya, kemiringannya ke kiri maupun ke kanan. Semua harus sama agar tidak terpisahkan.
Begitu sakralnya bahkan dalam agama Islam pernikahan itu adalah sebuah perjanjian yang begitu kokoh antara seorang laki-laki dan perempuan yang menjadi sepasang suami istri setelah sebelumnya mereka hidup terpisah sebagai seorang individu. Perjanjian tersebut bahkan disamakan dengan perjanjian-Nya dengan para Nabi. Atau seperti ayat Al Qur’an dibawah ini yang menurut saya maknanya sungguh luar biasa, yang menggambarkan begitu kautnya ikatan antara sepasang insan tersebut;

”Para Istri itu adalah pakaian bagi kalian (para suami) dan kalian adalah pakaian bagi mereka”. (QS.Al Baqoroh : 187)

Dalam bahasa Jawa Istri disebut garwa atau sigaraning nyawa. Jika disederhanakan berarti istri adalah detak jantung suami yang berdetak ditempat lain, istri adalah nafas suami yang berhembus ditempat lain. Jadi sudah sewajarnya suatu ikatan pernikahan itu harus benar-benar dijaga. Namun bagaimana jika anda adalah seorang pria Muslim dan anda merasa tidak cukup memiliki satu Istri? Atau bahasa kerennya itu adalah Poligami.
Konon pada tahun 2007 ada seseorang yang berusaha untuk menggugat UU No 1 Tahun 1974 tentang perkawinan di Gedung Mahkamah Konstitusi (MK). Seseorang tersebut menggugat bahwa poligami itu hak semua agama dan tidak eksklusif milik Islam saja. Namun gugatan  tersebut lantas digagalkan.
Gugatan tersebut dilakukan karena adanya pernyataan bahwa poligami bisa mengurangi angka perceraian. Klaim tersebut dibantah mentah-mentah oleh Dirjen Bimbingan Masyarakat Islam Departemen Agama, Nasaruddin Umar. Poligami justru menjadi penyebab terjadinya perceraian di Indonesia.
Menurut catatan dari Pengadilan Agama di seluruh Indonesia, pada 2004, menurut Nasaruddin, terjadi 813 perceraian akibat poligami. Pada 2005, angka itu naik menjadi 879 dan pada 2006 melonjak menjadi 983. Poligami juga menjadi terlantarnya perempuan dan anak-anak. Syarat ijin istri yang harus diperoleh seorang pria untuk berpoligami seperti yang diatur dalam UU Perkawinan, kata Nasaruddin, dimaksudkan untuk menghindari dampak buruk akibat poligami.
Data Biro Pusat Statistik (BPS) dan Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) tentang perbandingan jumlah laki-laki dan perempuan. Pada tahun 2007, jumlah laki-laki sebanyak 50,2 persen, sebanding dengan jumlah perempuan sebesar 49,2 persen. Berdasarkan data itu, poligami yang seringkali dikatakan dilakukan untuk mengatasi jumlah perempuan yang lebih banyak dari laki-laki, sama sekali tidak beralasan. Dari jumlah perempuan yang 49,2 persen itu, banyak didominasi oleh janda cerai dan yang ditinggal mati suaminya. Jadi, kalau mau poligami, lebih baik dengan janda-janda itu, jangan dengan perempuan belum menikah.
Berdasarkan data yang dikeluarkan Mahkamah Agung (MA) pada 2010, masalah utama perceraian dipicu karena masalah ekonomi. Data yang dilansir Badan Peradilan Agama Mahkamah Agung baru-baru ini menyebutkan, dari 285.184 perkara perceraian, sebanyak 67.891 kasus karena masalah ekonomi. Di urutan kedua, pemicu perceraian adalah perselingkuhan sebanyak 20.199 kasus. Ternyata kekerasan fisik bukan menjadi pemicu utama sebuah perceraian yaitu hanya 2.191 kasus. Orang lebih suka bercerai karena dipicu api cemburu dibandingkan karena kekerasan, yaitu sebanyak 10.029 kasus.
Kasus perceraian jika dilihat dari data beberapa tahun terakhir, 2010-2014, meningkat 52 persen. Sebanyak 70 persen perceraian diajukan oleh istri. Menurut Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) Kehidupan Keagamaan Kementrian Agama (Kemenag) pada tahun 2010-2014 dari sekitar 2 juta pasangan menikah, 15 persen diantaranya bercerai. Angka perceraian yang diputus pengadilan tinggi agama seluruh Indonesia tahun 2014 mencapai 382.231, naik sekitar 100.000 kasus dibandingkan dengan pada tahun 2010 sebanyak 251.208 kasus. Hal itu karena ketidaksiapan menikah yang ditandai rumah tangga tidak harmonis, tidak ada tanggung jawab, persoalan ekonomi dan kehadiran pihak ketiga.

*********

Pada jaman yang modern ini dimana perempuan mendapat hak yang sama dengan laki-laki dalam memperoleh pendidikan, mengemukakan pendapat, hak politik, dan hak-hak lainnya yang pada jaman dahulu masih menjadi tabu, mungkin saja hal tersebut juga berpengaruh terhadap besarannya presentase gugatan cerai yang dilakukan oleh pihak istri. Karena perempuan pada masa kini lebih cerdas, mereka memiliki kuasa penuh atas kehidupan dan nasibnya sendiri, dan tentunya paham betul tindakan apa yang diperlukan terhadap pernikahan yang sudah tidak layak diperjuangkan.
Mungkin saja jika Kartini tidak memperjuangkan hak perempuan pada masa lampau, pastinya jaman sekarang akan banyak perempuan yang tertindas haknya. Tidak ada lagi istilah habis gelap terbitlah terang, karena terang tidak kunjung tampak karena gelap yang enggan pergi.
Karena, perempuan itu konon terbuat dari tulang rusuk yang paling bengkok dari laki-laki. Apabila dipaksa untuk lurus mengikuti kehendak laki-laki maka tulang tersebut akan patah, namun jika dibiarkan saja maka tulang tersebut akan tetap bengkok. Tugas laki-laki pada jaman sekarang sepertinya lebih berat dari jaman dahulu, karena yang dihadapi saat ini adalah perempuan yang memiliki standar hidup yang levelnya sama atau bahkan lebih tinggi dari laki-laki, dan tentunya sudah sangat absurd apabila perempuan masih tetap bertahan dengan laki-laki yang kehidupannya tidak bisa dipertanggungjawabkan dan laki-laki juga harus menyiapkan kehidupan yang maksimal untuk perempuan yang akan dijadikan pendamping hidupnya. Agar kasus perceriaian seperti data diatas presentasenya tidak selalu menanjak setiap tahu.
Seperti yang dituliskaan oleh Arina Kriswandani di kolom Kompasiana, dia menjabarkan perempuan jaman sekarang sebagai berikut ; Perempuan selalu bebas mengunggah foto selfie dan membicarakan banyak hal sana-sini. Perempuan leluasa mengeluh dan membuat drama di media sosial pribadi. Perempuan bisa memonyong-monyongkan bibir dan berpose kepala miring dengan alis yang telah dibentuk sedemikian rumitnya. Perempuan marah bila digoda dan dilecehkan namun bebas mencuri perhatian dengan menyembulkan sedikit belahan dada sampai dipuja-puja di lini masa. Perempuan seolah punya banyak pembenaran untuk marah dan menangis dengan alasan klise yang mengintimidasi ketidak-pekaan kaum laki-laki. Sedangkan laki-laki? Seorang laki-laki memiliki batasan dalam berekspresi. Mereka akan berpikir berkali-kali untuk melakukan hal yang sama demi mempertahankan kadar maskulin. Mereka lebih memilih bersikap kalem meski pikiran dan hati porak poranda, bahkan terkesan tidak peduli. Hingga pada akhirnya timbullah tagline ”Perempuan selalu benar”.
Arina Kriswandani juga sedikit berkomentar bahwa tagline ”Perempuan selalu benar” bukan berarti bahwa segala tindakan perempuan bisa dimaklumi dan masuk dalam kategori benar. Seperti halnya kasus yang masih hangat dan kontroversi Zaskia Gotik dengan leluconnya mengenai lambang negara, dari kasus tersebut dapat dipetik pelajaran bahwa menghibur haruslah berlandaksan etika dan menjadi paublik figur tidak hanya harus menonjolkan kecantikan semata. Tentunya menjadi perempuan mampu menjadikan dirinya hal yang berharga.


Jadi, apakah perempuan itu selalu benar?

Cianjur, 21-04-2016

Rabu, 06 April 2016

Agama, Seberapa Pentingkah Kehadirannya?



Saat ada waktu senggang saya membiasakan diri untuk membaca, kebanyakan membaca melalui media online, entah itu dari protal berita online atau tulisan-tulisan yang dimuat dari web-web pribadi para tokoh-tokoh Indonesia. Namun kebanyakan saya membaca apa saja yang bisa dibaca sepanjang mata memandang, hitung-hitung untuk membunuh waktu yang tidak produktif dan juga karena daerah yang saya tempati kali ini tidak ada toko buku seperti Gramedia, jadi kebanyakan membaca di media online. Dari membaca inilah timbul niat untuk membagikan informasi yang saya dapat melalui tulisan di blog pribadi saya –meskipun sempat vakum lama-, sekalian belajar menulis menerjemahkan apa yang saya peroleh dari membaca.
Pada kesempatan kali ini, fokus saya tertuju pada isu pengaruh agama dalam kehidupan masyarakat, dengan sebuah pertanyaan; apakah bangsa yang mayoritas beragama memiliki dampak dalam kehidupan bermasyarakat? Latar belakang kenapa fokus ini muncul karena saya cukup kaget membaca sebuah berita yang menyatakan bahwa Negara yang paling Islami di Dunia ini adalah Negara Irlandia –Data menurut penelitian Guru Besar politik dan bisnis Internasional Universitas George Washington, AS, Hossein Askari di Tahun 2014-. Padahal bukan rahasia umum lagi bahwa Indonesia adalah Negara dengan mayoritas umat Islam terbesar di dunia. Hal tersebut membuat saya semakin penasaran dan karena semakin seru, saya coba meng-ubek-ubek dunia maya untuk mencari informasi yang menyajikan data sesuai dengan berita tersebut.
Jadi, Prof. Askari dan Prof.Scheherazde S Rehman melakukan penelitian di 208 negara untuk mencari Negara manakah yang dapat dijadikan tolak ukur sebagai Negara yang merefleksikan ajaran Islam atau yang menerapkan nilai-nilai Islam dalam segala bidang -dalam bidang ekonomi, pemerintahan, hak politik rakyat dan juga hubungan internasional-. Dari penelitian beliau inilah dijelaskan bahwa Negara Irlandia adalah negara yang paling merefleksikan ajaran Islam. Hal ini salah satunya karena, Negara tersebut benar-benar mengedepankan kesejahteraan tanpa adanya isu-isu rasialisme agama dan sengat sesuai dengan ajaran-ajaran Islam misalnya dalam hal keadilan dan kejujuran. Lantas dimanakah dan bagaimanakah dengan Negara yang mayoritas penduduknya Muslim seperti Indonesia? Dalam posisi 50 besar dari penelitian tersebut, hanya ada Malaysia -menduduki peringkat ke-33- dan Kuwait -di peringkat ke -48-. Indonesia sendiri entah berada diperingkat berapa.
Prof. Askari menjelaskan kenapa Negara-negara yang mayoritas Islam malah berada di posisi paling buncit, itu karena Negara-negara tersebut menggunakan Islam hanya sebagai alat kekuasaan. Beliau berkata bahwa "Jika sebuah negara memiliki ciri-ciri tak ada pemilihan, korup, opresif, memiliki pemimpin yang tak adil, tak ada kebebasan, kesenjangan sosial yang besar, tak mengedepankan dialog dan rekonsiliasi, negara itu tidak menunjukkan ciri-ciri Islami”.
Dari pernyataan Prof. Askari kita bisa memahami kenapa Negara-negara Muslim khususnya Indonesia berada di urutan buncit. Karena bisa kita lihat, Islam sebagai pedoman kehidupan hanya dijadikan alat kekuasaan saja, hanya tampilan luarnya saja yang terlihat Islami namun didalamnya banyak Patologi yang sudah mengakar seperti, korupsi, pimpinan yang tidak adil, tidak transparannya kegiatan politik, dan masih banyaknya kesenjangan sosial.
Membicarakan penerapan Islam dalam kehidupan sehari-hari, malam tadi di grup WhatsApp alumni MTs saya -yang didalamnya banyak orang-orang dari latar belakang Pondok pesantren-, ada salah satu orang yang mengirimkan gambar berupa sebuah hukuman bagi para perempuan yang mengenakan celana jeans ketat di Aceh. Hukuman tersebut berupa me-Milox celana tersebut langsung di TKP. Banyak teman-teman di Grup yang meng-Amini hal tersebut, mungkin mereka berpikir karena hal tersebut tidak sesuai dengan syariat. Namun saya mencoba menjelaskan dari sudut pandang yang lain bahwa kita sebagai orang Islam -apalagi yang saya hadapi ini teman-teman Pondok Pesantren- janganlah menggunakan kaca mata kuda dalam menerapkan syariat agama. Belum tentu juga perempuan-perempuan yang dihukum tersebut memang belum memahami batasan-batasan syar’i dalam berbusana, mungkin perempuan-perempuan tersebut juga belum memiliki kesempatan mengenyam pendidikan Islam yang lebih tinggi dan alangkah baiknya hukuman tersebut diganti dengan dakwah yang lebih bermartabat.

****
Jika diatas saya membahas penerapan Islam di berbagai Negara dan juga contoh kecil di Indonesia. Lantas bagaimanakah pengaruh agama secara umum –tanpa melihat satu-persatu agamanya- terhadap kehidupan masyarakat. Mari kita simak data dari Pew Research Center dibawah ini ;

Dari data tersebut, peringkat teratas Negara-negara yang masyarakatnya menjadikan agama sebagai sesuatu yang wajib adalah Ethiopia, Senegal dan Indonesia. Negara-negara tersebut secara kehidupan secara menyeluruh –baik dalam segi ekonomi, politik, dsb- tidak lebih maju daripada negara-negara yang berada di peringkat bawah. Padahal untuk Indonesia sendiri, negara kita ini banyak sekali ditemui para ahli di bidang agama, dalam setiap aspek kehidupan dari urusan kasur sampai dapur, dari soal makan bubur hinggal liang kubur, Agama selalu hadir di kehidupan masyarakat.
Kenapa negara-negara yang sangat peduli dengan Agama kalah makmur dengan negara-negara yang tidak memandang penting Agama? Apakah orang-orang yang ber-Agama hanya sukses dan makmur dikehidupan Akherat? Ataukah seperti penjelasan diatas bahwa negara-negara yang maju tersebut sebenarnya sudah menjalankan prinsip-prinsip Agama –seperti Irlandia yang dinobatkan sebagai Negara paling Islami- dan justru Negara-negara yang berlandaskan Agama hanya kulit luarnya saja namun di dalamnya penuh kepentingan duniawi?

Lieur euy...........

Wassalam,

06-04-2016, Cianjur yang langitnya masih galau

Senin, 04 April 2016

Memahami Arti Pengorbanan Dan Kesabaran



Sambil mendengarkan suara khas dari Matthew Bellamy mengumandangkan lagu yang berjudul “Mercy” dari album baru Muse, saya membaca berita portal online detikcom yang selalu menemani hari-hari saya memenuhi informasi yang sekiranya dibutuhkan atau untuk update kejadian yang telah berlangsung dibelahan bumi lainnya. Seperti biasa, kolom sepakbola -selain kolom teknologi- merupakan asupan informasi yang sangat penting untuk saya. Mata saya berhenti sejenak saat melihat judul berita “Mengabadikan Sir Bobby Charlton”, seorang legenda sepak bola Inggris dan klub Manchester United, dan salah satu orang yang selamat dari tragedi Munchen. Kebetulan beliau ini saya lihat saat pertandingan Manchester United melawan Everton di Old Trafford tadi malam.
Sebelum pertandingan yang mempertemukan Manchester United melawan Everton, ada momen peresmian tribun di stadion Old Trafford yang diberi nama “Sir Boby Charlton Stand” yang berhadapan langsung dengan tribun “Sir Alex Ferguson Stand”. Tribun yang terletak disebelah selatan ini merupakan tribun untuk kelas VIP, dan juga letak adanya ruang ganti para pemain. Pertandingan yang disiarkan langsung oleh SCTV tersebut bersamaan dengan berlangsungnya Final Piala Bhayangkara yang mempertemukan Arema vs Persib Bandung dan pada saat itu sudah memasuki babak kedua.
Kebetulan kedua klub tersebut –MU dan Arema- merupakan tim sepakbola favorit saya, sehingga saat keduanya disiarkan secara hampir bersamaan otomatis remot TV yang selalu digenggaman tangan saya juga sangat lincah mengganti-ganti channel setiap beberapa detik untuk melihat update pertandingan. Kebetulan saat peresmian tribun “Sir Bobby Charlton Stand” saya tidak terlalu mengikutinya secara seksama, karena Arema vs Persib Bandung sedang panas-panasnya, toh nanti saya bisa membacanya di berita atau menontonnya di Youtube untuk peresmian tribun tersebut -pikir saya-.
Dan benar juga, Detikcom merangkum berita peresmian tribun tersebut, tribun yang diabadikan untuk seorang legenda besar Inggris dan Manchester United. Disana diceritakan secara ringkas momen peresmian tersebut, dan juga potongan-potongan komentar dari beberapa tokoh penting, salah satunya adalah Van Gaal yang merupakan Manajer Manchester United saat ini. Dari kutipan komentar Van Gaal inilah yang membuat saya tertarik, berikut komentar Van Gaal yang saya kutip dari Detikcom
"Fantastis. Merupakan sebuah kehormatan tersendiri buat saya melihat bagaimana kultur sepakbola Inggris menghormati para pemain mereka --sungguh luar biasa. Ketika semua orang melakukan standing ovation untuk Sir Bobby, saya menitikkan air mata. Saya amat menyukai momen itu dan dia layak mendapatkannya. Saya menyaksikan Sir Bobby dan Jimmy Greaves (legenda Chelsea dan Tottenham Hotspur, red) ketika kecil, mereka adalah idola saya," ujar Van Gaal.
Entah kenapa komentar Van Gaal ini membuat pikiran saya terbang jauh melewati dimensi waktu berimajinasi dengan tokoh-tokoh besar masa lalu yang gerak kehidupannya berdampak hingga hari ini, Jika diamati, penghargaan yang ditrerima Sir Bobby Cahrlton ini berasal dari pengorbanannya terhadap apa yang dicintainya, dalam hal ini adalah MU dan Timnas Inggris. Sama dengan tokoh-tokoh besar lainnya, seperti misalnya Peter –Orang yang diakui sebagai Paus Pertama oleh Gereja Katolik-. Seandainya Peter pada saat itu tetap lari dari kejaran tentara Romawi dan tidak kembali ke Roma yang pada akhirnya dia di salib –Peter meminta untuk disalib dengan kepala dibawah karena tidak pantas di salib dengan posisi yang sama dengan Yesus-, mungkin agama Kristen atau Katolik tidak bisa berdisi sebesar sekarang, dan pengorbanan yang dilakukan Peter ini mungkin adalah awal episode kebangkitan agama yang dibawa oleh Isa Almasih tersebut.
Pun demikian dengan peristiwa perjanjian Hudaibiyah yang terjadi pada masa Nabi Muhammad SAW, pada saat persitiwa tersebut kekuatan pasukan Islam yang dipimpin Nabi Muhammad SAW sebenarnya bisa digunakan untuk mengalahkan pasukan Kafir. Namun bukannya melawan, Nabi Muhammad SAW malah memilih untuk dilakukan perundingan. Perundingan tersebut dilakukan melalui Teks Perjanjian –yang dikenal dengan Perjanjian Hudaibiyah- antara kaum Muslim dan kaum Kafir. Pada Teks perjanjian tersebut diawali dengan bismillahirrohmanirrohim. Namun ditentang keras oleh kaum Kafir karena mereka tidak menghendaki agama yang dibawa Nabi Muhammad SAW dan Nabi-pun menyetujuinya dengan menghapus kata-kata tersebut. Pada saat teks perjanjian sampai pada kalimat “Tulislah; Inilah yang sudah disetujui oleh Muhammad Rasulullah dan Suhail bin Amr”, kembali kaum Kafir protes karena mereka tidak mengakui kalau Nabi Muhammad SAW itu utusan Allah. Kembali Nabi menyetujui untuk menghapusnya dan hanya ditulis “Muhammad” saja. Hal tersebut membuat para sahabat yang salah satunya yaitu Umar bin Khattab menjadi geram dan emosi karena perjanjian tersebut dirasa merendahkan Islam.
Pada akhir perundingan, Umar pun mendatangi Abu Bakr dan menanyakannya kenapa Nabi mau saja menuruti permintaan kaum Kafir tersebut. Abu Bakr menjelaskan kepada Umar bahwa Nabi Muhammad adalah Rasulullah, utusan Allah dan Abu Bakr bersaksi mengakui hal tesebut. Namun karena masih geram dan kesal akhirnya Umar menghadap ke Nabi Muhammad SAW dan menanyakan hal serupa, dengan sabar dan keteguhan hati Nabi tidak mengubah keputusannya, dan diakhir percakapan mereka Nabi Muhammad berkata “Aku hamba Allah dan Rasul-Nya. Aku takkan melanggar perintah-Nya dan Dia tak akan menyesatkanku”.
Rasa geram dan kesal yang dirasakan oleh Umar mungkin bisa kita maklumi, dan kepatuhan yang luar biasa dari Abu Bakr terhadap ketupusan Nabi Muhammad SAW juga patut kita apresiasi tinggi. Namun kenapa Nabi Muhammad SAW mau melakukan itu semua? Kenapa Beliau mau mengalah terhadap kaum Kafir tersebut? Kenapa Beliau menyetujui perjanjian yang terkesan merugikan umat Islam?
Sejarah mencatat bahwa perjanjian tersebut pada akhirnya bisa menjadikan Islam untuk pertama kalinya bisa duduk sejajar dan diakui eksistensinya. Sehingga pada saat perjanjian tersebut dilanggar oleh kaum Kafir, kejadian tersebut dapat digunakan Nabi sebagai alasan legal untuk menguasai Makkah yang dieknal dengan Fathu Makkah.
Pada akhirnya waktu pula yang pada akhirnya menjadi saksi atas pengorbanan tersebut, dari Sir Bobby Charlton yang mencurahkan segenap kemampuannya untuk klub yang dicintainya sehingga namanya diabadikan menjadi nama tribun di Old Trafford. Dari pengorbanan Peter yang berujung pada bangkitnya Katolik dan pada akhirnya Peter diakui sebagai Paus pertama. Dan juga pengorbanan Nabi Muhammad atas kesabarannya yang lebih memilih sebuah perundingan dengan kaum Kafir, meskipun  pada saat itu perundingan tersebut dirasa merugikan umat Islam, hingga pada akhirnya terjadinya peristiwa Fathu Makkah yang menjadi titik balik kebesaran Islam. Semua pengorbanan tersebut tentunya tidak akan ada hasilnya apabila tanpa dijalani dengan kesabaran, keyakinan, keikhlasan dan juga rasa cinta terhadap apa yang diyakininya tersebut.
Kita bisa mengambil beberapa pelajaran dari tokoh-tokoh diatas, meskipun tidak terbenak untuk menjadi orang besar seperti mereka, paling tidak dengan selalu konsisten melakukan kebaikan sekecil apapun itu nantinya akan memiliki dampak yang luar biasa. Pengorbanan tidak akan menghasilkan keburukan apabila dilalui dengan ikhlas dan sabar, karena kata Tuhan, Innallaha ma’ash shabirin. Sungguh, Allah bersama orang-orang yang sabar. 
Akhir kata, tulisan ini merujuk pada Detikcom, Wikipedia, dan juga Buku yang berjudul Ashabul Kahfi Melek 3 Abad karya Nadirsyah Hosen & Nurussyariah Hammado.

Wassalam,

4 april 2016,
Cianjur yang langitnya selalu galau

Senin, 21 Maret 2016

Bangsa Kagetan



Di Indonesia ini saya memiliki banyak tokoh panutan, terutama dari tokoh Islam seperti Alm. Nurcholis Madjid (Cak Nur), Alm. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), KH. Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus), Ainun Nadjib (Cak Nun), Buya Syafi’i Ma’arif, Prof. Dr. Nadirsyah Hosen dan banyak lain sebagainya. Tokoh selain Islam juga ada beberapa yang saya kagumi tapi lupa nama mereka, hanya ingat wajahnya. Hehehe
Satu hal yang membuat saya kagum dengan mereka, yaitu cara berfikir mereka yang begitu unik, begitu luas ilmunya, sederhana dan selalu memiliki cara untuk menjawab setiap permasalahan dengan mengedepankan sisi kemanusiaan, atau yang sering didengungkan oleh Gus Mus adalah “Memanusiakan manusia”. Tapi sayang sekali kekayaan intelektual baik ilmu agama Islam atau Ilmu lainnya mereka seringkali dicap sebagai golongan liberal dan tidak sedikit yang mengecap kafir.

Karena merekalah saya berusaha untuk menghormati segala bentuk perbedaan dan keragamaan dengan mengedepankan sisi kemanusiaan. Terlebih negara ini adalah negara gado-gado, banyak warna di dalamnya, banyak agama, ras, suku, bahasa dan budaya yang sangat kaya. Untuk itulah dalam memahami perbedaan saya pribadi selalu menanamkan pentingnya sikap memahami satu sama lain, meskipun kadang hal tersebut sangat susah dilakukan.

Biasanya disetiap tulisan itu ada latar belakangnya, latar belakang tulisan ini sebenarnya karena efek dari salah satu postingan Facebook Prof. Dr. Nadirsyah Hosen yang begitu luar biasa, seorang guru besar University of Wollongong Australia, yang mengajar Islamic Law dan Australian Constitutional Law dan juga Rais Syuriah NU Cabang Australia. Untuk lebih spesifik bisa dicek sendiri di Akun FB Beliau.

Beliau menulis tentang tafsir ayat  Al Quran yaitu QS Al Ma’idah : 51 dan QS Al Nisa : 144 yang sama-sama menjalaskan larangan memilih “awliya” dari golongan orang-orang non Islam dan kafir. Beliau mencoba untuk membedah arti kata “awliya” yang oleh Departemen Agama Indonesia diartikan sebagai pemimpin melalui beberapa ahli tafsir seperti al Thabary, Ibn Katsir, As Saddi, dan Ibn Taimiyah. Inti dari ayat tersebut sesuai dengan apa yang saya cerna dari postingan FB beliau adalah, bahwa kata “awliya” berdasarkan beberapa tafsir dan asbabun nuzulnya (sebab turunnya ayat tersebut) tersebut bukan diartikan sebagai pemimpin, namun diartikan sebagai temenan (berteman) dalam arti bersekutu dan beraliansi dengan meninggalkan orang Islam. 

Contoh gampangnya itu misal si A seorang Muslim mempunyai teman si B yang Non Muslim, si A ini berteman sangat akrab dengan si B, saking akrabnya si A menjadikan si B ini sebagai sekutunya karena mungkin akan berguna suatu saat nanti atau berlindung kepada si B, dan oleh karena alasan tersebut si A meninggalkan Islam dan memeluk agamanya si B. Dan si B disini itu disebut sebagai “awliya’.

Luar biasa sekali Gus Nadir ini dalam menjabarkan maksud ayat tersebut, menggunakan sudut pandang dari berbagai ahli tafsir. Namun apa daya, di banyaknya komentar positif tentang penjelasan ayat tersebut ada juga beberapa oknum yang berkomentar negatif dan dengan mudahnya merendahkan Gus Nadir yang notabenya seorang Profesor dalam hukum Islam dan perbandingan Mahzab dengan kata-kata yang tidak pantas.

Beliau menuliskan penjabaran tersebut agar orang-orang Islam khususnya tidak mudah terjebak dalam isu Politik Praktis dengan membawa-bawa ayat tersebut untuk kepentingan duniawi semata, kepentingan jegal menjegal dalam politik dengan cara mengajak untuk mengkaji setiap peristiwa dengan hal-hal yang bisa dipertangungjawabkan, tanpa mengedepankan emosi. Apalagi, akhir-akhir ini ramai dibicarakan tentang pencalonan Pak Ahok dalam Pilkada Gubernur tahun depan.

***
Bisa dibilang banyak pihak yang masih sensitif terkait isu keagamaan, sara dan ras di Indonesia ini. Apalagi kalau ditambahi bumbu-bumbu politik, suasanya bisa memanas dan kadang kebablasan hingga menimbulkan gesekan-gesekan yang menurut saya tidak perlu. Saya jadi teringat omongan Gus Mus kalau masih banyak orang di Indonesia ini yang kagetan, ada isu sedikit yang berkaitan dengan agama kaget terus emosi, ada pencalonan Gubernur yang non Muslim kager terus emosi, dulu ada goyang Inul yang bikin heboh banyak yang kaget terus emosi, dan lain sebagainya. Seolah-olah Islamya orang yang kagetan terus emosi ini adalah Islam yang paling benar. Kalau hal tersebut dibudidayakan bisa-bisa negara kita yang mayoritas Islam ini (yang juga merupakan ketakutan saya) akan menduplikat ketidakstabilan yang terjadi di Timur Tengah karena isu agama, lebih mengutamkaan otot daripada akal, lebih mengutamakan emosi daripada hati nurani.

Dalam hal sederhana seperti pertarungan Pilgub DKI Jakarta, bagi yang tidak setuju untuk Ahok maju sebagai Gubernur, ya sudah jangan memilih dia, apalagi orang-orang yang suka berkomentar negatif yang domisilinya bukan warga Jakarta lebih baik kasih analisa yang lebih santun tidak perlu bawa-bawa agama dan ras. Bagi yang mendukung dia juga berkampanyelah dengan santun tanpa membawa-bawa agama dan ras juga. Saya jadi teringat kata-kata Gus dur kalau orang yang melakukan kebaikan itu tidak akan ditanya apa agamanya, tapi akan diliat bagaimana kinerjanya, bagaimana hasil kerja kerasnya untuk kemaslahatan bersama tanpa memandang dari agama atau ras mana saja. Kalaupun kriteria orang baik tersebut datang dari kalangan Non Muslim, ya kita doakan saja semoga dapat hidayah, kalau datang dari golongan Muslim, doakan juga biar semakin banyak orang-orang Muslim berkriteria seperti itu.

Sesederhana itu, janganlah jadi bangsa yang kagetan. Jangan pula kaget terus emosi sama tulisan saya ini, nanti dikira saya pendukung Ahok, pun saya juga bukan Pembenci Ahok. Saya hanya concern, mbok yo kalau ada hal-hal seperti ini lagi jangan gampang emosi dan bawa-bawa agama. Lebih baik agama itu dibawa tanpa emosi yang negatif, kalau emosi yang positif saya baru ikutan.

Yo wis gitu aja.

Wassalam